Showing posts with label opinions. Show all posts
Showing posts with label opinions. Show all posts

Dari Bukit Hijau ke Kota Beton

>> Sunday, September 21, 2008

Oleh Indah Surya Wardhani

Pembangunan kota yang lapar tanah mencakari lembah dan bukit yang pernah menghijaukan Kota Bandung. Lereng-lereng perbukitan di Bandung utara pun tak luput dari incaran pengembang. Kawasan dengan kontur di atas 750 meter dari permukaan laut ini merupakan kawasan lindung bagi Kota Bandung.
Mengacu pada Peraturan Daerah (Perda) Kota Bandung Nomor 2 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bandung, kawasan Punclut tampak memiliki warna kuning tua yang menandakan kawasan ini terbuka bagi permukiman dengan luas terbangun sekitar 20 persen.
Padahal, setahun sebelumnya, sesuai Perda Provinsi Jawa Barat Nomor 2 Tahun 2003 tentang RTRW Provinsi Jabar, kawasan Punclut digambarkan berwarna hijau, artinya sebagai kawasan lindung yang tidak boleh dibangun.
Tarik-menarik kepentingan ekologis dan komersial terus berlangsung. Pembangunan pun marak di wilayah yang termasuk dalam Kelurahan Ciumbuleuit, Kecamatan Cidadap. Berdasarkan data Bappeda Kota Bandung tahun 2005, dari 268 hektar kawasan Punclut, hampir 38 persen di antaranya merupakan kawasan pengembangan milik tiga pengembang.
Dengan kondisi itu, pemulihan kawasan Punclut sebagai zona hijau pun menjadi terhambat. Kawasan ini seharusnya berfungsi sebagai pengendali tata air dan konservasi sumber daya hayati. Rusaknya ekologi di kawasan ini dapat berakibat buruk bagi Kota Bandung dan daerah di sekitarnya.
Padahal, pada 2000, di kawasan itu masih dijumpai pohon-pohon yang tumbuh di antara lahan tegalan yang digarap penduduk setempat. Jumlah penduduk asli saat itu 4.082 jiwa (1.074 keluarga). Dari jumlah itu, sekitar 80 persen di antaranya adalah penduduk asli dari perkawinan antarkeluarga dalam satu kampung atau dengan kampung lain.
Pembangunan juga merangsek perbukitan Dago Pakar. Kawasan dengan kemiringan sekitar 18 derajat ini merupakan kawasan lindung luar hutan yang hanya boleh dibangun tidak lebih dari 2 persen luas kawasan. Kenyataannya, kawasan ini justru dipadati vila dan perumahan elite. Padahal, 10 tahun lalu kawasan itu masih ranum oleh hamparan lahan nan hijau.

Pembangunan kota
Menyusutnya ruang terbuka hijau di Kota Bandung tidak terlepas dari pembangunan Kota Bandung yang lebih mengedepankan aspek ekonomi ketimbang aspek edukasi dan konservasi. Konflik kepentingan atas ruang ini akan selalu terjadi seiring dengan pertumbuhan penduduk.
Perumahan misalnya. Dengan pertumbuhan penduduk rata-rata 1,74 persen per tahun, perumahan yang mengambil lahan terbuka pun tidak terhindarkan. Tercatat hingga April 2008, jumlah penduduk 2,22 juta jiwa. Dari luas 16.729,64 hektar wilayah Kota Bandung, 52 persennya dipergunakan untuk perumahan.
Padahal, idealnya bangunan tidak lebih dari 60 persen luas kota. Hetifah Sjaifudian Sumarto, planolog dari ITB, menyatakan, Pemerintah Kota Bandung harus memiliki konsep dan kebijakan tegas mengenai tata ruang. Menurut dia, masyarakat, pengembang, dan pemangku kebijakan di Kota Bandung harus duduk bersama merumuskan Rencana Detail Tata Ruang Kota Bandung yang mengacu pada Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
"Penanganan tata ruang dan lingkungan harus serius. Untuk kebutuhan ruang terbuka, Pemkot Bandung justru harus berani membebaskan lahan untuk ruang terbuka seperti yang sudah dilakukan di DKI, Kupang, dan Yogyakarta," ujar Hetifah, Jumat (19/9).
Menurut dia, daripada membangun di ruang hijau, Pemkot Bandung lebih baik membangun daerah coklat (brown field). Daerah coklat adalah kawasan komersial kota yang saat ini mulai meredup, seperti kawasan alun-alun dan sekitarnya.
Kawasan itu dapat dibenahi dengan citra baru antara lain melalui pembangunan ruang hijau, restoran, atau ruang terbuka untuk kegiatan masyarakat. Dengan demikian, ruang kota tidak sekadar untuk kegiatan rekreatif, tetapi juga bernilai historis dan edukatif. (Litbang Kompas)

Sumber: Kompas, Sabtu, 20 September 2008

Read more...

Sisi Lain Industri Kreatif Kaus

>> Monday, September 8, 2008

Oleh: Mamat Sasmita

Di dalam masyarakat Sunda ada yang disebut pakasaban, ada juga yang menyebutnya patukangan, yaitu jenis pekerjaan yang menjadi keahlian seseorang. Seperti anjun, yaitu tukang membuat barang sehari-hari dari tanah liat; gending, yaitu tukang membuat alat-alat dari bahan logam kuningan; kamasan, yaitu tukang yang membuat alat-alat dari bahan logam emas, itu yang berkaitan dengan pembuatan alat-alat.

Begitu juga dengan pekerjaan lain seperti tukang berburu di hutan disebut paninggaran atau pamatang. Sedangkan untuk tukang menangkap ikan dengan cara menyelam di sungai disebut palika, untuk tukang menangkap ikan di laut disebut pamayang.

Apabila membaca naskah Sanghyang Siksakandang Karesian (SSK), naskah kuno bahasa Sunda yang dibuat pada tahun 1518 M (transkripsi dan terjemahan, Saleh Danasasmita dkk, 1987), terdapat beberapa nama patukangan di antaranya pangeuyeuk (ahli kain/tekstil), paraguna (ahli karawitan), maranggi (ahli ukir), hareupcatra (ahli masak), darmamurcaya (ahli bahasa), dan sebagainya.

Apabila ingin tahu bentuk kain yang namanya kembang muncang, sebaiknya lihat saja bentuk bunga kemiri, bentuk gagang senggang kita lihat batang jenis tanaman perdu yang namanya bayam. Memang tidak semua nama jenis kain yang ada di SSK dikenal, dipilih saja yang bisa dibuat, yang tidak bisa biarkan saja, itu tugas para peneliti akademis. Tampaknya semua yang ada di SSK yang berkaitan dengan hal pakasaban pada dasarnya adalah industri kreatif.

Industri kreatif adalah proses peningkatan nilai tambah hasil dari eksploitasi kekayaan intelektual berupa kreativitas, keahlian, dan bakat individu menjadi suatu produk yang dapat dijual sehingga meningkatkan kesejahteraan bagi pelaksana dan orang-orang yang terlibat. Sedangkan kreativitas bisa muncul dengan latar belakang pendidikan, budaya, dan tentu saja talenta.

Salah satu klaster industri kreatif, yaitu tekstil dan produk tekstil (TPT), bisa berupa bordir, garmen baju, kaus, dan lain-lain yang berkaitan dengan produk tekstil. Misalnya daerah Suci sekitar Pasar Cihaurgeulis, Bandung, terkenal dengan produk kaus, entah itu kaus oblong, pakaian olahraga, atau produk lainnya yang berkenaan dengan kain kaus.

Desain

Dalam hal produksi kaus ini, ada hal yang perlu dipertimbangkan baik mulai desain tekstilnya (bahan kaus), desain fashion (potongan baju kaus), dan desain grafisnya sebagai ilustrasi atau gambar yang ditampilkan melalui media kaus itu. Memang kaus bisa dianggap sebagai media kreatif, selain tujuan utama sebagai hasil industri kreatif melalui desain fashion dan desain grafis.

Barangkali di sinilah bisa berpadunya antara kaus sebagai industri kreatif dan keunikan-keunikan budaya lokal melalui eksplorasi desain grafis. Kalau pada naskah SSK ada desain yang disebut kalangkang ayakan, rasanya bentuknya bisa ditebak, ayakan masih dipergunakan sampai sekarang. Kalau hanya ingin melihat kalangkangnya tinggal ditempatkan di terik matahari dan dilihat bayang-bayangnya, itulah desain kalangkang ayakan. Yang diperlukan supaya menjadi bentuk menarik di situlah kerja kreatif dari desainer.

Ciri khas Jawa Barat yang paling sering ditampilkan adalah gambar Gedung Sate, kujang, kecapi, atau angklung. Padahal masih banyak benda tradisional lain yang pantas ditampilkan seperti kele (ruas bambu untuk mengambil air), kolanding (ruas bambu untuk tempat air sadapan), lodong (sama dengan kolanding tetapi lebih panjang, beberapa ruas bambu), boboko (tempat nasi), aseupan, dan lain-lain.

Hal lain yang bisa "dijual" adalah bahasa Sunda itu sendiri. Ungkapan seperti ditilik ti gigir lenggik, disawang ti tukang lenjang, diteuteup ti hareup sieup....eta kabogoh abdi barangkali akan menjadi daya tarik bagi anak muda laki-laki. Keunikannya ada pada purwakanti (permainan bunyi kata pada susunan sebuah kalimat) bahasa Sunda. Untuk anak muda perempuan bisa saja sebagai jawaban ungkapan tadi mengambil kata-kata terong peot saboko, lumayan coel-coeleun, koboy gondrong nongtot leho lumayan toel-toeleun.

Tetapi, menampilkan bahasa Sunda seperti itu jangan sampai ada kesan merusak bahasa Sunda itu sendiri. Ada peribahasa Sunda yang berbunyi cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok, secara guyon sering dilanjutkan dengan kata-kata tai cakcak dina huntu, laun-laun ge dilebok, itu bukan arti dari peribahasa tersebut, hanya keisengan yang murwakanti. Sebaiknya disisipkan juga arti sebenarnya dari peribahasa tersebut, yaitu awahing ku leukeun laun-laun jadi bisa (karena terus-terusan dilakukan dengan tekun akhirnya bisa terlaksana).

Bagi yang senang berkaitan dengan kritik sosial bisa dipakai ungkapan mipit teu amit, ngala teu menta, korupsi amit-amit, atau ilmu tungtut dunya siar, hade turut goreng singlar, lamun korupsi burut..!. Atau yang lainnya jaman kiwari babari muji, sologoto moyok,...kalakuan tukang pulitik.

Gelombang keempat

Sepertinya pesan itu disampaikan sebagai kritik sosial yang bernada humor, tetapi bukankah orang Sunda senang humor? Rasanya kata-kata bernuansa seperti itu tidak akan kering bila terus digali dari kekayaan budaya dan bahasa Sunda, tinggal keuletan untuk mencarinya dan memadukan antara teks dan desain grafis yang enak dinikmati.

Contoh desain sangat melimpah di internet, namun kebanyakan hasil dari luar negeri. Barangkali tidak terlalu salah untuk memulai kembali membuka buku-buku tentang Sunda melalui perpustakaan atau rumah baca. Memang ekonomi kreatif membutuhkan orang-orang yang memiliki kemampuan berpikir dari berpikir literal menuju berpikir metaforikal.

Hasilnya biasanya melalui pengamatan sepintas yang ada di sekitar kita. Industri kreatif ini lemah pada detail, bila dilihat dari jauh tampak sangat menarik. Tetapi, bila didekati dan dicermati misalnya jahitan tidak rapi terkesan asal jadi, begitupun kerapian desain gambarnya.

Hal lain yang berkaitan industri kreatif adalah membuat barang suvenir dari bahan logam. Sungguh sangat susah mencari jepitan dasi atau gantungan kunci yang berbentuk kujang, berbentuk keris, berbentuk kele, lodong.

Padahal, bagi kamasan atau gending, bukan suatu pekerjaan yang susah. Hal bahan tentunya mudah didapat, pemasaran bisa dilakukan melalui art shop baik yang ada di hotel-hotel maupun yang tersendiri. Itulah sisi lain industri kreatif yang bisa saling mengisi dengan keunikan budaya lokal (Sunda). Bukankah ke depan industri ekonomi kreatif akan menjadi andalan malah disebut sebagai industri ekonomi gelombang keempat setelah industri informasi dan teknologi.

MAMAT SASMITA Penggiat Rumah Baca Buku Sunda di Bandung

Sumber: Kompas, Kamis, 17 Januari 2008.


Read more...

Memberdayakan Wali Kota sebagai Perancang Kota

>> Wednesday, August 27, 2008

Robert AS
Bulan September 2007 Presiden Perancis Nicolas Sarkozy bertemu dengan lima belas arsitek top dunia untuk membicarakan visi Paris sebagai ibu kota Perancis.
Pertemuan ini menunjukkan adanya hubungan antara arsitektur kota dan politik yang coba dikembangkan Sarkozy. Sejak era Francois Mitterand sebagai Presiden Perancis, banyak sekali pembangunan di Paris dengan skala besar, seperti Grand Louvre oleh IM Pei atau Pompidou Centre oleh Richard Rogers. Setelah itu, Paris hampir tidak mempunyai pembangunan yang menunjukkan perkembangan arsitektur modern.
Hal tersebut sangat menarik bila dikaitkan dengan pemilihan kepala daerah di Indonesia, isu tentang desain kota hampir tidak terlihat dalam kampanye. Mungkin isu ini masih dianggap isu tersier, sementara isu ekonomi dan sosial lebih menarik dan lebih mendasar.
Bagi kota-kota jasa seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar, visi tentang kota sangat penting untuk memberi gambaran tentang arah pengembangan. Ini demi memenuhi informasi untuk investasi dan kaum urban penghuni kota.
Wali kota untuk desain kota
Kita boleh belajar dari Mayors Institute on City Design (MICD) yang dibentuk di Amerika Serikat pada 23 Oktober 1986. Institut ini beranggotakan para arsitek dan perancang kota yang memberi masukan dan saran kepada wali kota seluruh Amerika Serikat dalam membangun kota masing-masing.
Pembentukan MICD sebenarnya berawal dari pemikiran pendirinya, Wali Kota Charleston Joseph P Riley Jr, bahwa seorang wali kota sebenarnya adalah kepala perancang kotanya sendiri.
Hal ini sangat wajar mengingat besarnya peran wali kota dalam menentukan kebijakan perkembangan kotanya. Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara desain kota dan keputusan politik.
Para wali kota lulusan MICD banyak mengungkapkan bagaimana mereka dapat menghindari kesalahan dalam pembangunan kota setelah mendapat berbagai masukan dalam setiap kegiatan institut ini.
Pembangunan yang selama ini mereka kenal adalah pengembangan properti yang hanya berbasiskan ekonomi semata. Setelah berdiskusi dalam institut ini, mereka mendapat masukan dari semua aspek, termasuk desain kota yang akan mewadahi keragaman aktivitas kaum urban di kota.
Dalam setiap kegiatan dibahas isu-isu seperti pembangunan kembali kawasan yang berbatasan dengan perairan (waterfront), revitalisasi pusat kota, perencanaan transportasi, dan desain bangunan publik sesuai realitas di kota masing-masing.
Sampai saat ini, sekitar 700 wali kota telah mengikuti program MICD dan mereka telah menghasilkan visi pembangunan kota yang mereka pimpin.
Salah satu perancang kota yang terlibat dalam MICD adalah Elizabeth Plater, prinsipal konsultan perencanaan kota Duanny-Plater-Zyberk (DPZ). Dia telah menyusun beberapa pedoman dalam perencanaan dan perancangan kawasan kota baru di Amerika Serikat, sekaligus pendiri Congress for New Urbanism.
Salah satu contoh keberhasilan program MICD adalah Kota Charleston, South Carolina, yang menjadi preseden bagaimana kota dapat dirancang dan ditata dengan baik oleh wali kotanya sendiri, yakni Joseph Riley.
Riley adalah wali kota terlama dan tersukses dalam memimpin Charleston sampai saat ini. Untuk menghormati jasa wali kota tersebut, warga Charleston akhirnya mendedikasikan namanya menjadi stadion bisbol setempat dengan nama Joseph P Riley, Jr Park yang menjadi kebanggaan warga.
Wali kota Indonesia
Pembentukan institusi wali kota untuk perancangan kota yang baik dalam konteks semua provinsi di Indonesia dalam masa ini mungkin sulit dilakukan, tetapi sebagai proyek percontohan sangat masuk di akal jika lima kota terbesar di Indonesia mulai memikirkan hal tersebut.
Jika kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, atau Makassar mempunyai visi untuk perancangan kotanya 25-30 tahun mendatang, maka kelima kota tersebut melalui prinsip perancangan kota yang baik dapat menghindari kesalahan akibat pembangunan kota yang tidak terencana (secara berkesinambungan).
Kelima kota itu dapat didampingi langsung oleh tim perancang kota dan tim ekonomi yang dapat memberi arahan dan strategi dalam pengembangan kota. Proses pendampingan juga dapat dilakukan melalui institusi akademik, konsultan perancangan kota, atau melalui arsitek lokal dengan melalui riset terlebih dahulu. Mereka mengembangkan jaringan kerja yang aktif untuk membuka wawasan dan bertukar pikiran dalam perencanaan dan perancangan kota yang baik. Dengan demikian, bukan mustahil wali kota se-Indonesia dapat berperan sebagai perancang kotanya masing-masing.
Simbiosis antara perancangan kota dan kepentingan politik demi kepentingan publik akan menghasilkan perkembangan kota yang baik secara manajerial maupun fisik.

Robert AS Arsitek, Perancang Kota

Sumber: Kompas, Rabu, 27 Agustus 2008

Read more...

Bandung's Tourist Information Center in Sorry State

>> Wednesday, August 20, 2008

It was exactly 11:30 a.m. on Saturday when I found the white sign bearing the name of the Tourist Information Center in the northern part of the Grand Mosque on Jl. Asia Afrika in downtown Bandung.
Having found the sign, I started to look for an office behind it. Eventually, I saw a long wooden desk like those a receptionist usually uses, right behind the place where visitors to the mosque leave their footwear before entering the building. Well, right there, on the wall of the terrace of the building I read ""Tourist Information Center"", painted in red.
An elderly gentleman wearing a faded T-shirt and trousers made of a cambric-based batik cloth, seemed to be the person in charge of this non-partitioned room. With his back to the receptionist desk, the man, facing the wall, was talking on the telephone.
""Good afternoon, sir. May I bother you with a question?"" I said, trying to accustom myself to the condition of the information center. Shelves where there were neither brochures nor leaflets on tourism could be seen on his desk.
He glanced at me and, only by making a gesture with his right hand, he asked me to sit down in the chair with its faded upholstery. There were two chairs, apparently for visitors, but both also looked faded with rather damp upholstery. The leather part of the upholstery of the receptionist's chair was also torn in some part.
While I was still puzzled about what foreign tourists would think of this place when they came there for some information, I suddenly caught sight of a pile of objects behind the receptionist's desk. Of course, this pile was invisible from outside. At the very bottom of the pile I saw an unused single gas stove and beside it I could see brochures that were not neatly stacked.
It suddenly crossed my mind why this information center, supposedly the gateway to tourism in Bandung, or perhaps all of West Java, should not be located just in front of the official residence of Bandung mayor, Dada Rosada, i.e. in the large open pavilion-like veranda, which is about 300 meters to the south of the terrace of the mosque.
Five minutes went by but the elderly man was still busy talking on the telephone. Five minutes more and he became more absorbed in this ""activity"". It was after a full 15 minutes that he finished his telephone conversation and turned to me.
After being a little upset because I had been neglected, I could feel slightly comforted when the man, smiling, politely apologized to me for making me wait.
The man's name is Ajid Suryana, 40, the only person available at the Tourist Information Center. I learned that before me, four Belgian tourists came there for some information about how to get to Tangkuban Perahu, a crater in Lembang, North Bandung, which is popular among tourists.
""Well, this Tourist Information Center has been like this for a year now. Just part of the mosque building,"" said Ajid about the poor condition of the center. Without being asked, he gave me some brochures, a map of Bandung, a tourist brochure and a copy of the ""Yellow Pages"" for tourists. These items are freely distributed to every visitor here.
The condition of the Tourist Information Center, the only such center in Bandung, has been like this since March 2005 despite its strategic location in the Alun-Alun area of downtown Bandung. Ajid, who works at the tourism service of Bandung municipality administration on a contract basis, agreed that the place was not properly presentable as a tourist center that provides services to tourists, particularly foreign ones.
""As it is part of the mosque building, foreign tourists sometimes feel reluctant to visit us. Most of them are not Muslims,"" said Ajid, who has worked at this center since 1989.
Before being moved to its present location, this center was situated in the southern Alun-Alun and was quite presentable as a tourist center. Unfortunately, the Alun-alun, which is precisely in front of the Grand Mosque, is undergoing renovation but the process has been protracted. As a result, this center is yet to have its permanent and presentable place.
Ajid is the only official in charge of this tourist center. He can speak English and a little Dutch and Japanese.
Despite its limited facilities, the center's visitor book shows about 465 foreign tourists visited it between March 2005 and February 2006. These visitors, who came from, among other places, Belgium, France, Holland, Switzerland, Germany, Poland and even the Ivory Coast, came there either because they had lost their way or because they needed information about tourist destinations in Bandung.
""Very helpful. Good. Nice,"" are typical of the comments that some of the visitors have written about Ajid. Besides Tangkuban Perahu, other tourist destinations that foreign tourists usually need information about include Maribaya in Lembang, a hot spring in Garut and Pangandaran beach in Ciamis. Some tourists have also inquired about cheap transportation from Bandung to Bali.
Tourist Information Center was established in 1973 to support Bandung as a tourist city, he said. However, the tourism service seems to pay little attention to its well-being.
Yuli Tri Suwarni
Source: The Jakarta Post, Fri, 03/17/2006

Read more...

Imperialisme Baru dan Ketergantungan dalam Pembangunan Kepariwisataan Indonesia

>> Tuesday, August 19, 2008

Studi Kasus Pariwisata di Kota Bandung
Oleh: Dieny Ferbianty
Sekilas Mengenai Teori Ketergantungan
Teori ini berawal dari teori struktural, yang pada dasarnya menyetujui pendapat bahwa adanya ketergantungan satu negara atas negara lain, karena adanya kekurangan modal dan kurangnya tenaga-tenaga ahli pada negara tersebut. Adapun faktor penyebabnya adalah karena adanya proses imperialisme atau neo imperialisme yang menyedot surplus modal yang terjadi di negara-negara pinggiran ke negara-negara pusat. Teori ini juga menjelaskan bahwa imperialisme ada hubungannya dengan kapitalisme. Perkembangan yang wajar dari negara-negara pinggiran, yang seharusnya menuju pembangunan yang mandiri, terganggu akibat masuknya kekuatan ekonomi dan politik negara pusat. Ada dua pendapat mengenai teori ketergantungan ini. Teori dari Frank menyebutkan bahwa struktur ketergantungan yang ada di negara satelit tidak memungkinkan negara ini melakukan pembangunan. Sedangkan Dos Santos beranggapan bhawa hal tersebut memungkinkan, walaupun pembangunan yang terjadi merupakan bayangan dari negara pusat. Peter Evans dan Cardoso menguraikan bahwa pembanguan dan industrialisasi bisa saja terjadi, tetapi sangat peka terhadap gejolak yang muncul di negara pusat.

Teori ketergantungan dari John A Hobson. menjelaskan imperialisme dan kolonialisme melalui motivasi keuntungan ekonomi. Teori ini merupakan kelompok teori Gold, yang menjelaskan, bahwa terjadinya imperialisme karena adanya dorongan untuk mencari pasar dan investasi yang lebih menguntungkan. Ketika pasar dalam negeri telah jenuh atau pasar dalam negeri terbatas, maka mereka mencari pasar baru di Negara-negara lain. Menurut Vladimir Ilich Lenin, imperialisme merupakan

Read more...

Pasar Serba Ada di Gerbang Negara

Oleh: Soelastri soekirno

Kiranya tak salah menyebut Bandara Internasional Soekarno-Hatta sebagai ”pasar serba ada”. Di bandara itu ada penyemir sepatu, ojek, taksi gelap, pedagang asongan, resto terkenal, dan porter liar. Sungguh jauh dari bayangan wajah negara yang mestinya tertata, aman, dan nyaman.
Keluhan soal kondisi dan pelayanan di bandara yang lebih banyak tampak ”amburadul” daripada tertata sering terlihat. Namun, upaya pembenahan belum juga maksimal.
Hingga Rabu (13/8), kondisi bandara tetap belum sesuai harapan pengguna. Rasa tak aman dan tak nyaman masih menggelayuti perasaan.
Lewatlah di area publik dalam bandara niscaya bau dan asap rokok akan langsung menyergap hidung. Begitu duduk di bangku panjang di Terminal I dan II atau memesan makanan di salah satu resto dalam area bandara, dalam hitungan menit, pedagang asongan dan penjual jasa menghampiri menawarkan dagangan dan jasa mereka.
”Semir, semir sepatu,” kata bocah lelaki bersandal jepit bersahut-sahutan. Baru semenit menolak tukang semir, datang penjual parfum dan pulpen menawarkan dagangan. ”Parfum ini sama dengan yang dijual pramugari. Kalau di mal harganya sampai Rp 300.000, di sini saya jual Rp 150.000 saja,” kata Sri, penjual parfum, merayu calon pembeli.
Keluar dari resto, giliran penarik ojek dan sopir taksi gelap yang kini dilegalkan menjadi penyewaan mobil dan biro wisata menawarkan jasa untuk mengantarkan ke mana saja.
Untuk meyakinkan calon penumpang, Nafis, penarik ojek warga Bojong Renged (kampung di belakang bandara), bercerita, ia sering mengantar penumpang sampai wilayah Kota di Jakarta Barat. ”Kemarin saya antar seorang ibu yang ketinggalan pesawat. Rumahnya di Pamulang- Kabupaten Tangerang. Ongkosnya cuma Rp 70.000,” ujar Roni, pengojek, Selasa malam. Ia mangkal di Terminal II, penerbangan internasional, Garuda dan Merpati.
Kondisi lebih seru terjadi di area parkir. Kaum perempuan yang menjadi pedagang asongan makanan menggelar dagangan di banyak tempat. Ada yang di antara mobil, ada pula yang memilih berdagang di pangkalan ojek. Selain menjual teh, kopi panas, aneka kue, dan telur, pedagang juga menyediakan bermacam lauk dan nasi putih.
Harga satu porsi nasi putih dengan sayur dan salah satu lauk (bisa oseng kerang atau balado teri) plus sambal hanya Rp 7.000. Jika ditambah minum sebotol air mineral bermerek terkenal, pembeli cukup membayar Rp 9.500 sekali makan. Mereka tetap lahap makan walaupun aroma tak sedap tercium akibat banyak orang yang suka buang air kecil di sembarang tempat.
Harga makanan itu murah dibandingkan makan dengan menu yang hampir sama di warung makan resmi di area parkir atau terminal bandara yang harganya bisa tiga kali lipat.
Menurut Idah, penjual asongan makanan di area parkir bandara, berjumlah lebih dari 100 orang, termasuk dirinya. Mereka umumnya warga di balik pagar Bandara Soekarno-Hatta.
Bagi para perempuan, seperti Idah yang tak tamat SMP, berjualan makanan di bandara sangat membantu ekonomi keluarga. ”Sebagian yang jualan gini dulu korban gusuran, tetapi ada juga pendatang dari Sumatera,” kata Dedeh, pedagang makanan yang asli Tangerang.
Bermodal termos, tas berisi bungkusan nasi, lauk, telur, sambal, dan air mineral, para perempuan itu menyusuri area parkir bandara untuk mengais rezeki.
Beberapa orang di antara mereka mengaku mendapat penghasilan lebih dari Rp 100.000 per hari. ”Lumayan bisa bantu suami yang cuma ngojek. Kalau tidak begini, dari mana biaya sekolah anak,” kata Dedeh yang memiliki tiga anak.
Selain pedagang makanan, di balik ratusan mobil yang parkir, ada porter liar. Selasa malam, Kompas menyaksikan sebuah keluarga yang akan memasukkan koper dan tas ke mobilnya kaget saat tiga lelaki tiba-tiba muncul di belakang mobil dan membantu memasukkan empat koper dan tas mereka.
”Bos, bos,” kata seorang dari lelaki itu. Maksudnya ia meminta uang. Dengan mimik kesal, salah satu anggota keluarga itu memberi uang kepada para lelaki yang biasa disebut porter liar tersebut. Porter, tanpa kerja, yang tiba-tiba datang dan minta uang ini menjengkelkan pengguna bandara.
Tanggung jawab bersama
Manajer Humas PT Angkasa Pura II Trisno Heryadi mengakui adanya kekurangan sarana dan pelayanan di Bandara Soekarno-Hatta.
Akan tetapi, pihak badan usaha milik negara yang mengelola bandara tersebut menyatakan, hal itu sebagai tanggung jawab bersama. ”Maksudnya saya, mereka yang terkait dengan penggunaan bandara harus bersama- sama mewujudkan bandara yang nyaman dan aman,” kata Trisno pada Rabu.
Soal tumbuh suburnya ojek, taksi gelap, pedagang asongan bahkan pelanggaran oleh para perokok, ia berpendapat, hal seperti itu terjadi karena sikap dan tiadanya keinginan masyarakat untuk berubah menjadi baik.
Ia menambahkan, Angkasa Pura II juga tengah melakukan pembenahan dan pembangunan Terminal III.
Benar, mulai ada perbaikan total toilet di Terminal I (domestik) dan penambahan toilet, ruang ibadah di area parkir, tetapi kenyamanan pengguna juga berkurang oleh makin tersitanya ruang publik oleh penambahan kios makanan dan pakaian.
Sebagai bandara utama yang tiap tahun dikunjungi 34 juta penumpang dalam dan luar negeri, tak pantas dibiarkan dalam keadaan ”amburadul”.
Sumber: Kompas, Kamis, 14 Agustus 2008

Read more...

Pasar Serba Ada di Gerbang Negara

Oleh: Soelastri soekirno

Kiranya tak salah menyebut Bandara Internasional Soekarno-Hatta sebagai ”pasar serba ada”. Di bandara itu ada penyemir sepatu, ojek, taksi gelap, pedagang asongan, resto terkenal, dan porter liar. Sungguh jauh dari bayangan wajah negara yang mestinya tertata, aman, dan nyaman.
Keluhan soal kondisi dan pelayanan di bandara yang lebih banyak tampak ”amburadul” daripada tertata sering terlihat. Namun, upaya pembenahan belum juga maksimal.
Hingga Rabu (13/8), kondisi bandara tetap belum sesuai harapan pengguna. Rasa tak aman dan tak nyaman masih menggelayuti perasaan.
Lewatlah di area publik dalam bandara niscaya bau dan asap rokok akan langsung menyergap hidung. Begitu duduk di bangku panjang di Terminal I dan II atau memesan makanan di salah satu resto dalam area bandara, dalam hitungan menit, pedagang asongan dan penjual jasa menghampiri menawarkan dagangan dan jasa mereka.
”Semir, semir sepatu,” kata bocah lelaki bersandal jepit bersahut-sahutan. Baru semenit menolak tukang semir, datang penjual parfum dan pulpen menawarkan dagangan. ”Parfum ini sama dengan yang dijual pramugari. Kalau di mal harganya sampai Rp 300.000, di sini saya jual Rp 150.000 saja,” kata Sri, penjual parfum, merayu calon pembeli.
Keluar dari resto, giliran penarik ojek dan sopir taksi gelap yang kini dilegalkan menjadi penyewaan mobil dan biro wisata menawarkan jasa untuk mengantarkan ke mana saja.
Untuk meyakinkan calon penumpang, Nafis, penarik ojek warga Bojong Renged (kampung di belakang bandara), bercerita, ia sering mengantar penumpang sampai wilayah Kota di Jakarta Barat. ”Kemarin saya antar seorang ibu yang ketinggalan pesawat. Rumahnya di Pamulang- Kabupaten Tangerang. Ongkosnya cuma Rp 70.000,” ujar Roni, pengojek, Selasa malam. Ia mangkal di Terminal II, penerbangan internasional, Garuda dan Merpati.
Kondisi lebih seru terjadi di area parkir. Kaum perempuan yang menjadi pedagang asongan makanan menggelar dagangan di banyak tempat. Ada yang di antara mobil, ada pula yang memilih berdagang di pangkalan ojek. Selain menjual teh, kopi panas, aneka kue, dan telur, pedagang juga menyediakan bermacam lauk dan nasi putih.
Harga satu porsi nasi putih dengan sayur dan salah satu lauk (bisa oseng kerang atau balado teri) plus sambal hanya Rp 7.000. Jika ditambah minum sebotol air mineral bermerek terkenal, pembeli cukup membayar Rp 9.500 sekali makan. Mereka tetap lahap makan walaupun aroma tak sedap tercium akibat banyak orang yang suka buang air kecil di sembarang tempat.
Harga makanan itu murah dibandingkan makan dengan menu yang hampir sama di warung makan resmi di area parkir atau terminal bandara yang harganya bisa tiga kali lipat.
Menurut Idah, penjual asongan makanan di area parkir bandara, berjumlah lebih dari 100 orang, termasuk dirinya. Mereka umumnya warga di balik pagar Bandara Soekarno-Hatta.
Bagi para perempuan, seperti Idah yang tak tamat SMP, berjualan makanan di bandara sangat membantu ekonomi keluarga. ”Sebagian yang jualan gini dulu korban gusuran, tetapi ada juga pendatang dari Sumatera,” kata Dedeh, pedagang makanan yang asli Tangerang.
Bermodal termos, tas berisi bungkusan nasi, lauk, telur, sambal, dan air mineral, para perempuan itu menyusuri area parkir bandara untuk mengais rezeki.
Beberapa orang di antara mereka mengaku mendapat penghasilan lebih dari Rp 100.000 per hari. ”Lumayan bisa bantu suami yang cuma ngojek. Kalau tidak begini, dari mana biaya sekolah anak,” kata Dedeh yang memiliki tiga anak.
Selain pedagang makanan, di balik ratusan mobil yang parkir, ada porter liar. Selasa malam, Kompas menyaksikan sebuah keluarga yang akan memasukkan koper dan tas ke mobilnya kaget saat tiga lelaki tiba-tiba muncul di belakang mobil dan membantu memasukkan empat koper dan tas mereka.
”Bos, bos,” kata seorang dari lelaki itu. Maksudnya ia meminta uang. Dengan mimik kesal, salah satu anggota keluarga itu memberi uang kepada para lelaki yang biasa disebut porter liar tersebut. Porter, tanpa kerja, yang tiba-tiba datang dan minta uang ini menjengkelkan pengguna bandara.
Tanggung jawab bersama
Manajer Humas PT Angkasa Pura II Trisno Heryadi mengakui adanya kekurangan sarana dan pelayanan di Bandara Soekarno-Hatta.
Akan tetapi, pihak badan usaha milik negara yang mengelola bandara tersebut menyatakan, hal itu sebagai tanggung jawab bersama. ”Maksudnya saya, mereka yang terkait dengan penggunaan bandara harus bersama- sama mewujudkan bandara yang nyaman dan aman,” kata Trisno pada Rabu.
Soal tumbuh suburnya ojek, taksi gelap, pedagang asongan bahkan pelanggaran oleh para perokok, ia berpendapat, hal seperti itu terjadi karena sikap dan tiadanya keinginan masyarakat untuk berubah menjadi baik.
Ia menambahkan, Angkasa Pura II juga tengah melakukan pembenahan dan pembangunan Terminal III.
Benar, mulai ada perbaikan total toilet di Terminal I (domestik) dan penambahan toilet, ruang ibadah di area parkir, tetapi kenyamanan pengguna juga berkurang oleh makin tersitanya ruang publik oleh penambahan kios makanan dan pakaian.
Sebagai bandara utama yang tiap tahun dikunjungi 34 juta penumpang dalam dan luar negeri, tak pantas dibiarkan dalam keadaan ”amburadul”.
Sumber: Kompas, Kamis, 14 Agustus 2008

Read more...

Berwisata ke Tempat Pengolahan Sampah

>> Friday, August 15, 2008

Oleh: Harry Kurniawan
Tempat pengolahan sampah atau TPS adalah senjata terakhir pemerintah kota dalam mengelola sampah kotanya, tetapi hingga kini TPS bagi masyarakat bukan sesuatu yang layak dikenal.
Citra TPS sebagai tempat yang kotor dan sangat mungkin menjadi sumber penyakit menjadikan penolakan warga akan keberadaan TPS di lingkungannya menjadi dapat dimengerti.
Keberadaan teknologi yang menjamin sistem pengolahan sampah yang bersih dan aman menjadi salah satu solusi yang harus bisa disosialisasikan kepada masyarakat. Di samping itu, tampilan fisik dan program ruang TPS juga dapat mengubah citra buruk di mata masyarakat.
Beberapa kota dunia, seperti New York, Paris, dan Vienna, memanfaatkan kemampuan arsitektur untuk memperbaiki citra sekaligus mengubah persepsi masyarakat terhadap tempat pengolahan limbah tersebut.
Jepang, salah satu negara maju yang menerapkan aturan ketat mengenai sampah, juga memiliki Naka Waste Incineration Plant di Hiroshima dan Maishima Incineration Plant di Osaka yang dapat menjadi contoh usaha tersebut.
Kedua fasilitas pembakaran sampah (incineration) ini selesai dibangun tahun 2004 (Hiroshima) dan 2001 (Osaka) untuk melengkapi fasilitas pengolahan sampah di masing-masing kota. Pada kedua fasilitas itu tampilan fisik benar-benar berhasil ”menipu” persepsi masyarakat tentang fungsi tempat itu.
Citra arsitektur kontemporer dengan bentuk asimetris-geometris, nondekoratif, dan metal sebagai kulit bangunan Hiroshima Naka Waste Incineration Plant menimbulkan citra bangunan megah, bersih, dan formal. Sangat bertolak belakang dari citra fasilitas pengolahan limbah selama ini.
Yoshio Taniguchi, arsitek yang terkenal dengan desain museumnya, termasuk Museum of Modern Art New York, dengan bangga menyebut Hiroshima Naka Waste Incineration Plant sebagai desain museum of garbage-nya.
Pendekatan yang sama, tetapi dengan eksekusi berbeda terlihat di Osaka City Environmental Management Bureau’s Maishima Incineration and Water Treatment Plants yang didesain arsitek konservasi lingkungan terkenal dari Austria, Meister Friedensreich Hundertwasser.
Fasilitas pengolahan sampah ini tampil bagai lukisan di atas kanvas sehingga lebih layak diduga sebagai theme park. Bentuk bangunan lebih dinamis, material sangat bervariasi, permainan bentuk dan warna pada elemen bangunan (jendela, pintu, langit- langit) serta penghijauan, berhasil menyampaikan pesan positif ”the harmony between ecology, technology, and art” yang ingin disampaikan si arsitek.
Kedua fasilitas ini menjadi lebih istimewa karena memang dibangun untuk melayani dan menjadi bagian dari masyarakat.
Fungsi publik
Usaha awal yang dilakukan Pemerintah Kota Hiroshima dan Osaka adalah memasukkan fungsi fasilitas insinerasi ini ke dalam visi dan misi serta rencana infrastruktur pembangunan kawasan atau kota.
Hiroshima Naka Waste Incineration Plant tidak lain adalah bagian dari rencana kota Hiroshima untuk membangun infrastruktur sosial kota sebagai bagian dari proyek Hiroshima 2045: ”the city of Peace and Creation”, sekaligus memperkuat tema ”The Water City Hiroshima”.
Osaka Maishima Incineration Plant yang berada tepat di pintu masuk pulau buatan tidak lain adalah bagian penting dari rencana induk kawasan Maishima sebagai Maishima Sports Island dan pendukung kota Osaka untuk memenangi persaingan sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Panas 2008 yang direncanakan berpusat di Pulau Maishima.
Bangunan Hiroshima Naka Waste Incineration Plant yang terdiri atas satu lantai basement, tujuh lantai kantor pengelola, dan satu lantai penthouse hanya menempati 27 persen luas total tapak sebesar 50.200 meter persegi, sementara sisanya didedikasikan bagi masyarakat dan kota Hiroshima dalam wujud waterfront park.
Bangunan tersebut dibagi menjadi tiga zona oleh Taniguchi. Salah satu zona di bagian tengah disulap sebagai zona publik. Zona publik yang terdiri dari atrium dan dikelilingi koridor viewing gallery ini memungkinkan masyarakat melihat isi perut insinerator, serta pemandangan laut, pelabuhan, dan kota Hiroshima.
Taniguchi juga menempatkan walkway ecorium sepanjang 400 kaki menembus atrium tersebut. Ecorium itu memiliki fungsi istimewa sebagai media informasi bagi masyarakat yang ingin mengetahui urutan proses dan teknologi pengolahan sampah, menghubungkan permukiman dengan waterfront park baru yang berada di sisi selatan bangunan, dan memainkan peran simbolik sebagai gerbang yang menghubungkan laut dengan kota Hiroshima. Terakhir, fungsi ekologis fasilitas bagi kota dan kawasan sekitarnya dipertegas dengan ditanaminya pepohonan di sekeliling bangunan dan juga di dalam atrium.
Begitu pula bangunan tujuh lantai Osaka Maishima Incineration Plant membuka dirinya untuk masyarakat. Masyarakat hanya perlu mendaftarkan diri satu minggu sebelumnya untuk mengikuti tur tersebut. Bangunan dibagi dalam tiga zona.
Sedangkan Hundertwasser meletakkan lobi dan visitor observation deck di bagian tengah bangunan untuk memberi kesempatan pengunjung melihat sebagian proses pengolah sampah berteknologi tinggi tersebut dan membuktikan TPS bisa menjadi tempat yang sangat bersih, indah, dan berkesan modern.
Dari luar, mosaik keramik, dan bentuk organis serta warna-warni semua elemen bangunan menjadi strategi tersendiri untuk mempercantik kawasan ini.
Proses pendataan setiap truk sampah masuk-keluar fasilitas juga bisa disaksikan masyarakat dari luar bangunan. Fasilitas ini tidak luput dari unsur penghijauan yang berada di taman-taman yang mengelilinginya, di atap bangunan serta pohon yang menjulur keluar dari jendela bangunan.
Dengan menginformasikan proses pengolahan sampah dan produksi sampah setiap harinya, diharapkan masyarakat lebih sadar dalam mengelola sampahnya.

Harry Kurniawan

Staf Pengajar Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan UGM dan Center for Universal Design and Diffabilities UGM

Sumber: Kompas, Minggu, 10 Agustus 2008

Read more...

Can Bandung be a trip down memory lane?

>> Tuesday, August 12, 2008

Far removed from the crowded tourist haunts of Bali and Jakarta, the provincial capital of West Java attracts its own unique type of tourists.

It's not what is sparkling and new about Indonesia that draws them to the city cradled in a ring of mountains, but rather the historical legacy which lives on along Bandung's streets.

Read more...

Menolak Krisis Energi Kreatif

>> Monday, August 11, 2008

Susi Ivvaty & Ninuk Mardiana Pambudy
Pertunjukan orkestra di tengah hutan? Itulah salah satu acara HelarFestival yang digelar Bandung Creative City Forum, 2 Juli-31 Agustus 2008. Dari sana bisa dilihat ide kreatif yang muncul dari komunitas anak muda Bandung mampu bertumbuh menjadi industri kreatif.
Orkestra di tengah Hutan Raya Juanda Dago Pakar, hanya satu acara pengisi HelarFest. Pertunjukan itu pun bagian dari GreenFest gagasan event designer Wawan Juanda.
Wawan menampilkan string dan recycle orchestra yang alatnya barang bekas, seperti kaleng dan plastik. Selain orkestra yang dijuluki Wawan musik organik karena sedikit memakai bahan bakar, di situ juga ada pergelaran eco-fashion. ”Misalnya, akar wangi ditenun lalu dikreasikan menjadi bagian dari fashion atau interior,” terang Wawan.
HelarFest menjadi unik karena memuat festival-festival kecil yang semua mengusung kreativitas. Jadilah festival dengan rentang waktu dua bulan.
”Kami inginnya bisa setahun penuh festival terus,” seloroh Wawan, penasihat Bandung Creative City Forum (BCCF).
Dimulai dari ngobrol di markas lembaga komunitas Common Room di Jalan Kyai Gede Utama, muncullah gagasan membentuk festival untuk menampung potensi dan energi kreatif anak muda Bandung.
Ketua BCCF Ridwan Kamil bersama Direktur Common Room Gustaff Hariman Iskandar, Ketua Kreative Independent Clothing Kommunity Tubagus Fiki Chitara Satari, dan banyak anggota BCCF lantas menggelar HelarFest.
Helar bisa berarti sesuatu yang berderet-deret, bisa juga unjuk diri dalam pengertian positif. Festival ini menampilkan berbagai potensi ekonomi kreatif Bandung. ”Ini strategi jangka panjang pengembangan platform ekonomi kreatif berbasis komunitas,” ujar Gustaff, koordinator program HelarFest.
HelarFest juga menjadi indikator partisipasi masyarakat. ”BCCF punya 15 program pengembangan industri kreatif yang terbagi dalam tiga kategori: menjadikan masyarakat lebih kreatif yang antara lain ditandai partisipasi; membangkitkan nilai ekonomi dengan menumbuhkan entrepreneur; dan memperbaiki infrastruktur kota karena ruang publik dapt merangsang ide kreatif. Itu kami jabarkan dalam HelarFest,” papar Ridwan.
Kamis lalu, di Bandung diluncurkan Creative Network Forum yang merupakan jejaring para wiraswastawan bidang kreatif Asia. Selama sepekan lalu, dengan difasilitasi British Council, puluhan wiraswastawan Asia bidang kreatif datang ke Bandung dan Cirebon untuk belajar dari dua kota itu. Bulan November 2008, BCCF diundang ke Cebu, Filipina, untuk berbagi pengalaman pengembangan industri kreatif.
”Kalau tahun 1955 Konferensi Asia-Afrika mendeklarasikan semangat kebangkitan post-colonial, maka tahun 2008 Bandung menyimbolkan kebangkitan ekonomi baru,” kata Ridwan.

Komunitas sebagai ruh
Kegiatan HelarFest membukakan mata orang Bandung memang tempat orang kreatif berkumpul, khususnya anak muda. Mereka membentuk komunitas dan menumbuhkan energi kreatif lalu mengembangkannya menjadi bernilai ekonomi.
Menurut Ridwan, tumbuhnya komunitas karena pemerintah tidak memberi apa yang menjadi hak warga, seperti ruang publik yang memadai atau ruang untuk bermusik berbagia grup band.
Ridwan menyebut, BCCF telah memetakan 20 industri kreatif di kota itu dan berharap dapat terkumpul 30 industri kreatif.
Komunitas yang aktif, antara lain, musik, seni rupa, arsitektur, teater, komik, blogger (ada komunitas bernama Batagor-Bandung Kota Blogger), hacker, desain, programming, skateboard, dan sepeda motor.
”Mulai 1990-an komunitas, terutama musik dan distro, muncul dan berkembang. Enggak nyangka bisa jadi industri. Ngasih pemasukan ke PAD (pendapatan asli daerah). Kalau sudah begini, pemerintah datang ingin membantu,” papar Fiki.
Ryan Koesuma (23), mahasiswa Teknik Arsitektur Universitas Parahyangan, misalnya. Gara-gara sering nongkrong di Common Room teman jadi banyak. ”Dari sana, ada yang minta dibikinin web sambil ngajarin gratis. Lama-lama aku bisnis web beneran,” kata Ryan.
Dia konseptor situs jaringan yang saat ini berpenghasilan sampai Rp 16 juta sebulan. Mulanya, Ryan yang sejak SMP gemar utak-atik html ini membikin majalah musik online deathrockstar.info. Dia lalu juga iseng-iseng mendesain web dan membuat mailing list drs@yahoogroups.com yang memiliki 1.700 anggota, mulai musisi, produser musik, hingga label studio rekaman, menghubungkan komunitas musik seluruh Indonesia agar saling tahu kegiatan satu sama lain.
Arie Ardiansyah (26), lulusan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, merancang VST Plugin (amplifier) yang ia beri nama Aradaz VST Plugin.
Terceburnya Arie di bidang ini bermulai dari kegemarannya bermain gitar dan band Disconnected. Sewaktu tengah ”pusing” menggarap skripsi yang tidak kunjung selesai, iseng-iseng dia belajar audio plugin, komponen perangkat lunak yang menjalankan fungsi pemrosesan sinyal digital. Jadilah empat jenis plugin selama dalam waktu dua tahun yang cocok untuk musik pop, blues, rock, hingga metal.
Plugin rancangannya sudah dipakai sekitar 15.000 pengguna di dunia. Dari empat plugin yang dirilis gratis melalui internet, satu jenis, yakni Aradaz Amp Crunch, dipakai gitaris Bulgaria, Dimitar Nalbantov, untuk albumnya.
Saat ini, Arie masih menggratiskan siapa pun yang mau memakai plugin rancangannya. Ia hanya memperoleh 100 dollar AS per bulan untuk iklan yang masuk ke blog-nya. Namun, ia berencana menjualnya. ”Aku ingin bikin industri VST Plugin yang mempekerjakan mahasiswa, jadi lebih komersial,” kata Arie.
Komunitas itu saling terhubung dan saling bantu. Dina, penulis dan pemrogram lagu, bersama grup bandnya, Homogenic, Oktober ini meluncurkan album yang direkam di Fast Forward Re- cord milik teman mereka sendiri, Helvi Sjarifuddin.
Komunitas Jendela Ide yang dipimpin perupa Andarmanik, karena tidak komersial, kemudian bekerja sama dengan Never Grow Up, distro yang memproduksi pakaian anak-anak, yang pemiliknya tak lain sahabat.

Orisinalitas
Satu syarat industri kreatif adalah keaslian karya yang memberi penghargaan pada kekayaan intelektual.
Arie contoh nyata bagaimana orisinalitas dikembangkan dan berpotensi ekonomis. Lewat Common Room, Arie menularkan kebiasaannya kepada anggota komunitas lain. ”Bisnis ini selain menjual orisinalitas, juga masih jarang peminatnya,” kata Arie.
Orisinalitas ini pula yang ditawarkan Dwinita Larasati, komikus yang doktor dari Delft Technical University, Belanda. Selain mengajar di Jurusan Desain Produk Institut Teknologi Bandung, ibu dua anak yang biasa dipanggil Tita ini menyisihkan waktu untuk menggambar.
Jenis komiknya graphic diary, semacam komik grafis yang bercerita mengenai perjalanan seseorang. Di situ, tokoh utama adalah Tita sendiri.
”Sejauh ini belum ada yang membuat komik graphic diary dengan karakter tokoh yang dikreasi sendiri dari banyak pengaruh, tidak berkiblat ke Jepang atau Amerika,” kata Tita.
Komik Tita, 40075 km Comics, diterbitkan di Belgia, berisi perjalanan hidup Tita. Angka 40075 adalah diameter bumi.
Ketika ada acara 24 Hour Comics Day di AS, dari 1.000-an peserta berbagai negara, Tita dengan komiknya Transition masuk sepuluh besar yang kesemuanya lalu diterbitkan dalam Highlight 2006.
Komik Tita yang lain, Curhat Tita, dijual dalam bentuk buku dan karakter serta adegan di dalamnya dijadikan pin, kantong telepon seluler, dan tas.
Begitu juga distro. Perancang pakaian bisa terus berkreasi lewat gambar dan narasi, seperti UNKL 347. Perusahaan yang terpilih menjadi industri paling inovatif di KickFest ini, misalnya, mendesain tiga sarung bantal bertuliskan ctrl, alt, dan del.
Kreativitas memang tidak mengenal krisis. Seperti ditegaskan Fiki, ”Kami menolak krisis energi kreatif.”

Sumber: Kompas, Minggu, 10 Agustus 2008

Read more...

Editorial: Visit Indonesia Year?

>> Tuesday, July 22, 2008

What an unfortunate year for Indonesia's tourism industry. Less than one month after the government declared 2008 Visit Indonesia Year, flooding crippled Jakarta's Soekarno-Hatta International Airport, the main gateway to the country, early last month.
Last week, the second annual Travel & Tourism Competitiveness Report 2008, by the Geneva-based World Economic Forum, downgraded Indonesia as a tourist destination to 80th among 130 countries surveyed. That was much worse than its position last year, which was 60th out of 124 countries.
The report showed that Indonesia scored very poorly in health and hygiene due to an inadequate supply of hospital beds, poor access to sanitation and drinking water and an acutely low number of qualified physicians.
The country also performed badly in that other pillar of the tourism industry -- infrastructure. In fact, Indonesian airplanes have been banned from European airspace since last year and no progress has been made on getting this blanket ban lifted.
Indonesia scored high only in terms of natural resources, with several World Heritage natural sites and the richness of it flora and fauna, and price competitiveness. But these strengths were undermined by such major weaknesses as underdeveloped infrastructure, including air and ground transportation.
There are even great concerns related to safety, particularly the prevalence of road accidents.
No wonder Indonesia, though richly endowed with a wide variety of cultures and interesting sites, has remained among the least popular tourist destinations even in the Southeast Asian region, outranked by Malaysia, Singapore and Thailand. Last year, Indonesia received just around 5.5 million tourists, compared to more than 9 million arrivals in Malaysia and almost 20 million in Singapore.
The survey showed the top-ranked countries in the travel and tourism industry -- Switzerland, Austria, Germany, Australia, Spain, the United Kingdom, the United States, Sweden, Canada and France -- understand the importance of support businesses and regulatory frameworks, coupled with world-class transportation and tourism infrastructure and a focus on nurturing human and natural resources.
Countries have vastly different underlying operational conditions, depending on where they fall in the tourism development spectrum. All have unique tourism products to offer, but the central goal is to encourage improvement in the underlying competitive conditions and infrastructure.
This is again where Indonesia is fundamentally weak, even in nature-based tourism, where the country should have a strong comparative advantage.
This latest travel and tourism report from the World Economic Forum should serve as a strong wake-up call for us, especially the government, to reinvigorate the tourism industry, especially now in the midst of a weakening global economy and uncertainty in the international financial market.
International tourism is known as a resilient industry, never suffering a deep and lasting recession and able to recover quickly because the need to travel, whether for business or leisure, is so deeply ingrained in our societies.
As a resource-based industry, tourism is also an ideal business for Indonesia to develop because of its multiplier effect and the labor-intensive nature of its operations. It directly benefits local communities economically. Travel businesses do their best when they use the local workforce, services, products and supplies.
The tourism industry also supports the integrity of a place. Destination-savvy travelers seek out businesses that emphasize the character of a locale. Tourism revenue in turn raises the perceived value of those assets.
Travel-related businesses such as hotels, restaurants, transportation, handicrafts and cultural shows are all labor intensive, the very kind of enterprises needed to absorb the huge pool of job seekers here.
But it is precisely because of its multi-sectoral activities that the promotion of the tourism industry should involve not only the tourism ministry but all other state and private organizations that provide the basic infrastructure and public services, including immigration, customs, transportation, accommodation and security.

Sumber: The Jakarta Post, Wednesday, 12 Maret 2008.

Read more...

Urusan Akhirat pun Jadi Bisnis Menggiurkan

Oleh: Irsad Sati

Penyediaan lahan makam sekarang bukanlah persoalan enteng bagi Pemerintah Provinsi Jakarta. Sebab, 95 unit tempat pemakaman umum (TPU) yang dimiliki Jakarta saat ini yang luasnya mencapai 580 hektare tidak mampu lagi menampung jasad-jasad kaku tak bernyawa itu untuk berkubur.
Dalam catatan Kantor Pelayanan Pemakaman (KPP) DKI Jakarta, saban hari, ada sekitar 100 hingga 130 warga Jakarta yang meninggal.
Memang tidak semua manusia yang meninggal di wilayah Ibu Kota dimakamkan di Jakarta karena ada sebagian dimakamkan di daerah asal mereka karena keinginannya.
Akan tetapi, berdasarkan catatan KPP DKI Jakarta, tetap saja Ibu Kota kekurangan lahan makam sekitar 300 hektare untuk kebutuhan pemakaman warga yang meninggal tersebut.
Tak pelak perburuan lahan makam di luar Jakarta menjadi tidak terelakan lagi. Kondisi ini ternyata mampu dimanfaatkan oleh sejumlah pengembang sebagai ceruk bisnis yang dibalut selimut sosial.
Setidaknya ada tiga proyek pemakaman komersial yang dikembangkan sebagai estat pemakaman yang kesemuanya berada di kawasan Karawang, Jawa Barat. Ketiga makam itu memiliki lahan pengembangan cukup luas, seperti Taman Kenangan Lestari seluas 32 hektare, Taman Memorial Graha Sentosa 200 hektare, dan San Diego Hills seluas 500 hektare.
Pengelola 'rumah masa depan itu' menyediakan berbagai macam pilihan kaveling dengan antara lain makam tunggal, ganda, keluarga, hingga kavling VIP (very important person).
Ketiga pemakaman itu memang bisa dibilang kawasan elite karena didesain dengan biaya mahal, sehingga menciptakan lingkungan eksklusif dengan kualitas infrastruktur terbaik. Selain itu yang tak kalah penting, pengembang ingin menghapus kesan bahwa tempat pemakaman identik dengan hal-hal yang seram.
Pengembang pemakaman San Diego Hills bahkan menyediakan tiga fasilitas helipad di kawasan estat pemakamannya untuk kebutuhan pendaratan bagi peziarah yang menggunakan helikopter.

Ibarat piknik
Tidak heran, bagi orang yang datang ke pemakaman itu serasa pergi piknik saja karena suasananya yang memang menciptakan suasana rileks dan lanskapnya yang bernuansa rekreasi. San Diego Hills paling menonjol terlihat sebagai kawasan rekreasi. Tepat di tengah-tengah kawasan pemakaman itu ada danau buatan seluas delapan hektare. Air danau itu berasal dari sudetan Sungai Citarum yang memang mengalir ke arah Kota Karawang.
Pengelola San Diego Hills akan memanfaatkan danau itu sebagai sarana rekreasi bagi para pengunjung pemakaman. Akan disiapkan pula perahu-perahu dayung berikut pemandunya. Semua itu tentu tidak didapat begitu saja, tapi sebanding dengan harga yang ditawarkan. Bayangkan harga pemakaman bisa ada yang sampai berharga Rp700 juta per kaveling.
Taman Memorial mematok harga sedikitnya Rp800 juta untuk kaveling royal family, bahkan Taman Kenangan berani mematok Rp1 miliar untuk kaveling sejenis.
Tarif harga makam itu lebih mahal dari harga satu unit apartemen di Jakarta yang masih bisa didapat seharga Rp300 juta.
Akan tetapi memang tidak semuanya semahal itu karena ada juga kaveling biasa dengan harga berkisar Rp3 jutaan untuk tipe makam single, sehingga orang bisa memilih sesuai dengan kemampuan kantong.
Mengembangkan Taman Kenangan Lestari, Taman Memorial Graha Sentosa, dan San Diego Hills memang tidak murah. Akan tetapi pengelolanya perlu mengeluarkan investasi besar untuk membangunnya menjadi bagus.
Jadi jangan heran, pengembang bisa menghabiskan dana ratusan miliar rupiah, bahkan sampai angka triliunan rupiah untuk membangun taman pemakaman tadi.
Dengan tampilan pemakaman seperti itu, tak pelak banyak masyarakat tertarik untuk dikuburkan di sana apabila saatnya telah tiba.
Menurut Andi Kurniawan Alie, General Manager Operation San Diego Hills, tercatat orang-orang besar, seperti Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, desainer Iwan Tirta, raja sinetron Raam Punjabi, artis Rima Melati, mantan Gubernur DKI Soerjadi Soedirdja, hingga mantan Menteri Pemberdayaan BUMN Tanri Abeng telah memesan dan membeli lahan pemakaman di sana.
Tak pelak sistem pesan lahan makam jauh- jauh hari sebelum ajal menjemput menjadi sebuah tren baru yang menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan.

Sumber: Bisnis Indonesia, Selasa, 22 Juli 2008.

Read more...

Bandung's potential as a MICE destination

>> Thursday, July 17, 2008

By: Iwan Suci Jatmiko

Over the passage of time, meetings, incentives, conventions and exhibitions (MICE) have become one of the important elements in the development of tourism in Indonesia.
Although one may get the impression that it is rather late for MICE activities to boost Indonesia's tourism, recently there have been various occasions that have substantially boosted the country's tourism through MICE activities.
Indeed, in advanced countries, this type of tourism has developed over a long time. The rapid growth of MICE activities has been prompted by the fact that the door to international trade has been more widely opened and that information technology and transportation have also developed fast.
A legendary MICE event was once held in Bandung, namely the Asia-Africa Conference in 1955. This was followed by various other international activities, such as the Games of the New Emerging Forces (Ganefo) in 1960 and a PATA conference in 1963. Since 1968, the Jakarta Fair has been held. A number of prestigious conferences in Indonesia have also been organized, such as the OPEC Summit in Bali (1974) and the APEC Summit Conference in Bogor (1995).
MICE is an element of the tourism service business, which encompasses the convention service business, intensive tours and exhibitions. The nature of a convention is to bring together a number of people or groups for a discussion. The common thread of these activities is tourism. Bandung in West Java is one of the country's MICE destination cities.West Java Year 2008" is part of the "Visit Indonesia Year 2008" and it is the right momentum to boost MICE tourism in Bandung and its surroundings. There is a saying that God was smiling when He created Bandung and therefore the city is charming, in terms of nature and culture.
Indeed, Bandung is one of the top tourist spots in West Java. Recently, it has been very difficult to find a hotel room in Bandung on weekends without an advanced booking.
The reason is that the marketing network for hotels in Bandung extends not to only Jakarta and cities in Java and Bali but also to Singapore, Kuala Lumpur, Thailand and a number of other advanced countries in North America, Europe and the Middle East.
As a result, to attract domestic and foreign tourists, there are plans to build 13 new hotels in Bandung this year. With the addition of the new hotels, the number of rooms will reach some 12,000.
"In 2007, some two million tourists, 10 percent of whom were foreign tourists, came to Bandung. We hope that this figure will continue to rise.
This year it is hoped it will reach six to 10 million tourists," Bandung Mayor Dada Rosada told reporters in a ceremony marking the laying of the cornerstone for the construction of the Cihampelas Extension on Jl. Cihampelas recently.
It is true that more tourists come to Bandung on weekends and public holidays. On weekdays, the city tends to be void of tourists. This condition, however, may lead to efforts to maximize convention facilities at hotels. The earnings from such conventions are reportedly considerable. Sometimes they are three times as much as the earnings from visitors that spend the night at the hotels.
The people who come to Bandung may savor the beauty of Bandung, which, like tourist cities in advanced countries, offers its own characteristics in a variety of forms such as the Priangan (West Javanese) people, exotic souvenirs and shopping choices ranging from factory outlets to malls as well as the city's varied cuisine, entertainment, spas, tourist sites and locations with historical value.
This means that Bandung has much to offer visitors.
Take, for example, Saung Angklung Mang Udjo, the angklung center. Since it was first opened to the public several years ago, one million foreign tourists have visited it to see performances and how the traditional bamboo Sundanese instrument is made. Bandung can also boast a number of international-class golf courses, all earning kudos from foreign tourists.
Besides the cool weather and the hospitality of its residents, Bandung has strategic access to communications facilities, which has encouraged residents from various cities in Java to visit Bandung. This is especially the case with Jakarta residents because it takes less than two hours to drive to Bandung.
"Visit West Java Year has been warmly welcomed by the communities of various cities in West Java. The reason is that this program not only features a parade of art and cultural works from various regions in West Java, but that it is also highlighted by art performances from 12 of Indonesia's provinces.
The fact that West Java can boast various forms of art and culture can serve as a yardstick to gauge the readiness of the province in supporting the central government's program to make tourism a strong foreign-exchange earner.
Meanwhile, Minister of Culture and Tourism Jero Wacik also praised the capability of West Java to develop its tourism potential so that it will have a direct impact on the community.
"In my judgment, West Java's potential must now be reckoned with in the organization of other MICE events. While before I thought the potential of MICE events could be tapped only in Jakarta and Bali, it turns out that Bandung is also capable of organizing such events," said the minister of culture and tourism.

Source: The Jakarta Post, Thu, 05/15/2008

Read more...

MICE industry in RI: Sleeping tiger yet to awaken

By: Burhanuddin Abe
In luring foreign tourists to Indonesia, it is not enough to just invite them to the country through a promotion showing that Indonesia is rich in culture and endowed with the beauty of nature. In the tourist industry, there are also meetings, incentives, conventions and exhibitions (MICE). These are interesting, well-prepared tour packages designed for large groups visiting for a particular purpose.

Read more...

Pariwisata Medis Perlu Dikembangkan

>> Tuesday, July 8, 2008

Untuk mengantisipasi perdagangan bebas ASEAN atau ASEAN Free Trade Area 2010 di bidang layanan kesehatan, mutu rumah sakit di Indonesia perlu ditingkatkan agar pasien tidak mencari layanan kesehatan ke negara-negara tetangga, yang disertai dengan pengembangan pariwisata medis.
Selain berdampak makin maraknya pasien berobat ke luar negeri, AFTA 2010 juga bisa memicu meningkatnya migrasi petugas kesehatan, seperti para perawat ke negara-negara tetangga terutama Singapura dan Brunei Darussalam. ”Setiap petugas kesehatan berhak bermigrasi,” kata Mukti Reksoprojo, pengurus Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi).
Harus diakui, dari segi kualitas, kondisi sebagian rumah sakit di Indonesia memprihatinkan. ”Menghadapi AFTA 2010, kini akselerasi akreditasi nasional bagi semua rumah sakit sedang dilakukan,” kata Ketua Persi Adib Yahya, Senin (7/7) di Jakarta.
Saat ini baru 40-50 persen dari total jumlah rumah sakit di Indonesia terakreditasi nasional. Unsur manajemen RS yang terkait akreditasi nasional, di antaranya, sistem administrasi RS, fasilitas pelayanan medis, keperawatan, dan manajemen keselamatan pasien.
”Kami targetkan, tahun 2009 mendatang, sekitar 75-80 persen seluruh rumah sakit di Indonesia telah memenuhi standar nasional,” ujarnya. Untuk standardisasi, pemerintah sebatas memberi panduan dan mengakreditasi.
Sementara itu, RS yang telah terakreditasi nasional diharapkan dapat meningkatkan mutunya agar mencapai standar internasional (joint commission international-JCI). ”Agar minat pasien luar negeri berobat ke Indonesia meningkat, kami akan mencanangkan pariwisata medis November nanti, seperti negara-negara tetangga,” ujarnya.
Ia optimistis, pariwisata medis bisa dikembangkan mengingat banyaknya obyek pariwisata menarik di Indonesia. Pengembangan pariwisata medis itu perlu melibatkan berbagai pihak, termasuk biro-biro perjalanan. ”Tiap rumah sakit bisa menawarkan paket pariwisata medis,” ujarnya.
Salah satu keunggulan pelayanan medis di negara-negara di Asia, seperti Indonesia, adalah biayanya relatif lebih murah dibanding negara maju.

Sumber: Kompas, Selasa, 8 Juli 2008

Read more...

Soewarno dan Ide Wisata Ekologi

>> Wednesday, June 11, 2008

Oleh: AMIR SODIKIN
Salah satu hal yang tak pernah dipromosikan sebagai daya tarik wisata adalah udara Indonesia. ”Di seluruh dunia, Indonesia itu tidak ada tandingannya untuk keunikan udara. Negara kepulauan tropis dengan udara lembab dan hangat banyak dicari wisatawan, tetapi tak pernah dipromosikan,” katanya.

Read more...

Museum "Kampung Sunda"

Oleh: JAMALUDIN WIARTAKUSUMAH
Selain museum berupa bangunan yang di dalamnya terdapat berbagai artefak sesuai dengan tema atau nama museum, terdapat juga jenis museum yang disebut open air museum atau museum terbuka. Disebut demikian karena bentuk museum tersebut tidak hanya

Read more...

Program Wisata: Di Manakah Gaung Visit Indonesia Year?

>> Friday, June 6, 2008

Sulawesi Selatan, salah satu dari puluhan provinsi di Tanah Air yang menjadi tujuan wisata. Sebagai daerah tujuan wisata, tentunya pantas bila pencanangan Visit Indonesia 2008 (VI 2008) pun memasukkan beberapa tempat dan acara wisata di Sulsel dalam agenda tahun kunjungan wisata itu.

Read more...

Promosi: Optimisme Vs Pesimisme

Ketika bom meledak, ketika kerusuhan massa terjadi, salah satu bidang usaha yang paling terkena imbas adalah sektor pariwisata. Sebagian negara pun langsung mengeluarkan edaran larangan berkunjung atau travel warning ke Indonesia. Itulah nasib pariwisata kita sejak awal 2000-an.

Read more...

Disiplin Ilmu Pariwisata Akhirnya Diakui sebagai Ilmu

Oleh Amir Sodikin
Pengembangan pariwisata Indonesia selama ini bisa disebut sebagai ”tak ada landasan akademis” yang kuat atau dibangun dengan ”tanpa ilmu”. Akibatnya, kebijakan pariwisata sudah pasti disetir birokrat yang notabene tak memiliki dasar pengetahuan pariwisata mumpuni.

Read more...

About This Blog

Lorem Ipsum

  © Free Blogger Templates Skyblue by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP