Showing posts with label Jajanan Bandung. Show all posts
Showing posts with label Jajanan Bandung. Show all posts

Nasi Timbel Beras Merah Bawean

>> Monday, December 22, 2008

Lokasi Nasi Timbel Bawean adalah di Jl. Bawean, depan toko roti Bawean. Nama tenarnya adalah Timbel Bawean. Sudah berjualan sejak tahun 86-an, dan termasuk pelopor nasi timbel di Bandung, dengan menu yang agak beda dengan kebanyakan menu nasi timbel yang ada di Bandung, yaitu nasi timbel beras merah.

Lalu apa kefadlolan nasi berbahan beras merah? Dari berbagai sumber referensi, ternyata nilai gizi beras merah adalah lima kali dari kandungan gizi beras putih. Berbeda dengan beras putih yang merupakan hasil gilingan sehingga akan kehilangan kulit arinya, beras merah bukan dari hasil giling, melainkan dari hasil tumbuk sehingga kulit ari, yang di dalamnya banyak mengandunng serat dan minyak alami, tidak banyak terbuang. Makanya beras merah banyak dipakai sebagai bahan makanan untuk bayi, karena kandungan gizi, vitamin dan mineralnya. Selain itu serat yang terkandung dalam kulit ari beras merah juga berfungsi sebagai pencegah penyakit jantung, kanker, kegemukan, diabetes dll. Jadi kenapa nasi timbel Bawean tidak Anda coba untuk makan siang Anda hari ini?


Tempat ini paling ramai adalah sewaktu makan siang. Dengan pelayanan ala prasmanan Anda bisa memilih menu sendiri sesuai dengan selera Anda. Ayam goreng sebagai menu wajib, ikan goreng, tahu, tempe goreng atau bacem, daging gepuk, pepes tahu, pepes usus, tumis usus, dan pepes peda merupakan menu penggoda untuk menyantap nasi timbel beras merah. Tak ketinggalan pula lalapan plus cocolan sambel yang tentunya sebagai menu fardlu alias wajib untuk menyantap nasi timbel.


Dengan modal Rp. 10 ribu saja, Anda sudah bisa menikmati nasi timbel komplit dengan ayam goreng, tahu atau tempe. Dengan menambah beberapa ribu rupiah Anda akan menikmati segarnya segelas jus sebagai penutup makan siang Anda.


Mau coba kan?

Read more...

Jajanan Bandung

>> Monday, September 8, 2008

Prices
In Bandung, meal prices are vary according to the places. In warung areas, the prices are approx 10.000-20.000 rupiah, in cafes, or local restaurants, the prices are approx 20.000-40.000 rupiah, while in foreign restaurants who serve international standard cuisine, the price is approx 40.000-100.000 rupiah.

Read more...

Masakan "Berbau" Sunda yang Kontekstual

>> Tuesday, September 2, 2008

MASAKAN khas Sunda memiliki citra makanan yang sehat karena selalu ada unsur sayuran segar yang biasa disebut lalapan dalam penyajiannya. Ada sebuah pendapat yang tak lekang sampai sekarang, penyantap banyak buah dan sayuran segar akan memiliki badan sehat, kulit halus dan bersih.

Itu sebabnya, kecantikan mojang Priangan yang memang hidup di alam segar pegunungan sering dikaitkan dengan kebiasaan mereka yang antara lain mengonsumsi makanan Sunda, hmmm....

Bisa jadi karena khasiatnya tadi, ditambah cukup mudah membuat makanan khas Sunda, para pengusaha kuliner memilih membuka restoran makanan Sunda di luar daerah Priangan. Jangan heran jika melihat restoran atau warung penyaji masakan Sunda hari-hari ini bertebaran di Jakarta. Ada yang bergaya Sunda banget, mulai dari interior, cara penyajian, jenis dan rasa masakan, hingga musik yang diperdengarkan.

Belakangan, penyajian dan rasa makanan khas Sunda mulai bergeser mengikuti selera warga Ibu Kota yang datang dari berbagai kalangan dan asal daerah. Restoran makanan Sunda tampil berbeda, tak lagi kental walau di beberapa tempat di luar Jakarta seperti Rumah Makan Walahar Krawang tetap bertahan pada tradisi dan sejarah.

Modern, akrab, dan hangat

Lihat saja restoran Sambara dan Warung Daun, keduanya di Jakarta Selatan. Sentuhan interior modern akan terasa begitu memasuki Sambara.

Sementara kondisi Warung Daun berbeda. Hariyanto Prayitno, pemilik rumah makan itu, memilih suasana rumahan yang membuat pengunjung serasa datang ke rumah keluarga atau kerabat yang terasa hangat.

Kondisi restoran penyedia masakan Sunda di Jakarta itu berbeda dengan apa yang terjadi di Rumah Makan Walahar H Dirja yang dikelola keluarga besar Dirja. Ada suasana akrab di sana. Pengunjung bisa menjenguk dapur luas tempat pepes-pepes dibakar.

Dapur ini, meski serba tradisional, sangat tertata dan bersih. Oleh karena itu, sejumlah lalat-lalat yang kadang berseliweran lebih berperan sebagai figuran ketimbang pemeran utama di rumah makan ini.

Meski dikelola secara tradisional dan melibatkan anggota keluarga besar, konsistensi dan kualitas rasa masakan tetap dijaga. Ibu Dirja, istri Pak Dirja, hingga kini masih mencicipi setiap jenis pepes untuk memastikan konsistensi rasa itu.

Yang menyenangkan, jenis masakan pepes boleh dibilang siap saji sehingga tak perlu menunggu terlalu lama. Meski begitu, semua jenis pepes baru diolah di hari penyajian sehingga tetap segar. Pepes tetap hadir dengan hangat bersama nasi pulen hangat, yang berasnya berasal dari sawah Pak Dirja.

Bahan-bahan lain, seperti lengkuas, serai, daun salam, pepaya untuk bahan sayur asam, dan daun singkong untuk lalapan, semuanya tersedia di kebun di sekitar rumah makan.

Jangan terkejut ketika bon disodorkan ke Anda. Hampir semua jenis pepes itu dihargai hanya Rp 4.000 per bungkus.

Modifikasi

Dilihat dari jenis makanan dan minuman yang tersedia, sekalipun pengelola Sambara menulis sajian Sunda di kartu nama, toh rasa masakannya lebih moderat. Apalagi es Kecapi Suling (Keling) yang terdiri dari cendol, avokad, tape, dan kelapa mirip dengan es dawet di Jawa.

Jika mencari menu yang dekat dengan masakan Sunda, coba pilih nasi anglo yang rasa dan baunya unik. Nasi putih dicampur dengan santan. Bagian atas nasi ada irisan pete berbau khas dengan taburan bawang goreng.

Selain menu nasi timbel atau nasi liwet dengan lauk gurame goreng atau empal goreng, di Warung Daun pengunjung juga bisa memilih sup gurame kuah pedas yang rasanya segar. Ada yang unik dari sajian sambal khas Warung Daun. Sambal yang disajikan di atas hotplate mengebul seperti steak.

”Itu sambal dari luar daerah Sunda,” jelas Hariyanto yang hobi memodifikasi aneka makanan. Sekali pun dari luar Jawa, sambal itu tetap pas dipadu dengan lalapan, pete, dan ikan atau daging.

Harga makanan di Warung Daun cukup mahal karena sebagian besar makanan berjenis organik yang memang mahal.


Soelastri Soekirno,Sarie Febriane

Sumber: Kompas, Sabtu, 23 Agustus 2008







Read more...

Masakan Sunda Bikin Kangen Terus Euy...

AROMA sedap masakan yang tengah dibakar langsung menyergap indera penciuman ketika kami tiba di rumah makan ini, setelah menempuh perjalanan hampir 70 kilometer dari Jakarta. Aroma itu datang dari jejeran bungkusan daun pisang berisi pepes yang tengah dijilati lidah api dari kayu bakar yang membara.

Pepes jambal legendaris bikinan Rumah Makan Walahar H Dirja masih saja mengesankan. Rumah makan yang berusia 26 tahun ini bertetangga dengan pintu air nan cantik dari era kolonial di Bendungan Walahar, Klari, Karawang, Jawa Barat.

Jenis masakan andalan di sini memang beragam jenis pepes. Ada pepes jambal yang tersohor, pepes ikan peda, pepes ikan mas, pepes tahu, pepes oncom, pepes jamur, pepes ayam, pepes teri, pepes ati empedal, dan yang terbaru adalah pepes remis.

Seperti yang selalu ditekankan pakar kuliner Indonesia, William Wongso, masakan yang mengesankan selalu dimulai dari kualitas bahan baku yang baik. Masakan enak bukan melulu soal bumbu yang meresap, begitu kata Pak William, yang juga jago masak itu.

Nah, di sinilah kekhasan masakan Sunda yang relatif minimalis dari segi bumbu. Seperti halnya juga masakan Jepang yang usui (ringan di bumbu). Kualitas bahan baku menjadi tuntutan yang tak boleh dibantah. Dan, inilah yang selalu bikin kangen dari masakan Sunda.

Pepes jambal, misalnya, dibikin dari ikan jambal yang didatangkan dari Jatiluhur dalam keadaan hidup. Bumbu-bumbu yang digunakan tak rumit, yakni lengkuas, kunyit, garam, jahe, cabai, bawang merah, dan daun kemangi.

Ketika bungkusan daun pisang dari pepes jambal itu disibakkan, tercium sedapnya aroma kemangi berkejaran dengan rempah-rempah lainnya. Cicipi dulu daging ikan jambal tanpa nasi, tanpa sambal. Tekstur daging yang terasa segar antara lembut dan kenyal.

Yang sangat mengesankan, aroma khas kayu bakar terjejak di langit-langit rongga mulut saat pepes ini meluncur ke kerongkongan. Sebab, hampir semua jenis pepes itu dimasak dengan cara dibakar sejak bahan baku mentah. Niscaya aroma semacam itu tak mungkin ditemukan dari pepes yang dibakar di atas arang, apalagi ”pepes modern” ala microwave!

Sambal uleknya rupanya cukup keterlaluan enaknya. Meski sambal ini digoreng, tak tampak minyak yang menggenang. Rasa pedasnya pun demokratis, tak sampai memonopoli rasa pepes.

Oh ya, jangan lupakan sayur asemnya. Sangat menyegarkan, dengan potongan nangka mengkal, jagung manis, dan dua-tiga potong pepaya muda (yang tampangnya mirip labu).

Dari Karawang, sayang rasanya kalau tak mampir di Restoran Sunda Alam Sari di Kota Bukit Indah, Dawuan, Cikampek. Meski andalannya masakan Sunda, rupanya juga tersedia dari spagetti hingga steak! Di buku menu, ada 120 macam masakan dan minuman yang ditawarkan.

Di Alam Sari, masakan yang khas adalah nasi kabeleum, yaitu nasi goreng yang dibakar. Nasi digoreng bersama ayam, bakso sapi, dan jagung pipilan, lalu dibungkus daun pisang dan dibakar. Unik dan mengesankan. Hidangan lain yang perlu dicoba adalah ulukuteuk leunca dan sup ikan gurame.

Ulukuteuk leunca merupakan leunca yang ditumis dengan oncom. Rasa oncomnya sangat istimewa. Yuli (30), salah seorang staf Alam Sari, menuturkan, sebelum leunca ditumis, oncom disangrai dahulu tanpa bumbu. Baru kemudian, bumbu ditumis, lalu dimasukkan leunca dan oncom sangrai tadi. Pantas saja, nuansa aroma sangit yang nikmat itu mengintip di sela-sela rasa gurih yang sopan.

Setelah tandas menyantap semua hidangan khas Sunda itu rasanya enggak ingin minum supaya jejak kenikmatannya tetap tertanam di lidah.

Berbahan organik

Itu tadi sajian makanan Sunda Walahar di Karawang yang berjarak sekitar 70 kilometer dari Jakarta atau hampir dua jam perjalanan dengan mobil pribadi. Bagaimana jika tak cukup punya waktu untuk pergi ke Karawang? Tak perlu khawatir. Di Jakarta juga banyak warung atau restoran yang menyediakan menu masakan Sunda.

Jika mau bersantap dalam suasana santai, bisa memilih Warung Daun dan Sambara. Aneka menu khas Sunda bisa ditemukan di kedua tempat tersebut, tetapi pada akhir pekan dan jam makan siang bersiaplah untuk menunggu giliran makan karena pengunjungnya bejibun.

Warung Daun tampak berbeda dalam menyajikan menu-menunya. Pasangan suami-istri Hariyanto Prayitno (51)-Aji Ledi Susanti, pemilik warung itu, sejak awal mendirikan Warung Daun di Jalan Wolter Monginsidi, Jakarta Selatan, memilih memakai bahan-bahan organik untuk diolah berbagai masakan di restorannya. Masakan di warungnya juga bebas monosodium glutamat (MSG).

”Bisa disebut kami restoran tradisional pertama yang memakai bahan-bahan organik,” ujar Hariyanto yang asal Surabaya. Alasannya, dengan memilih bahan organik yang bebas pestisida, para tamu yang menyantap masakannya juga akan lebih sehat.

Pensiunan staf PT Pupuk Kaltim itu memulai usaha tahun 2003. Ia memilih pensiun dini sebab merasa minat membuka restoran lebih besar. Kebetulan pula Hari dan istrinya gemar makan. Jadilah keduanya berkeliling ke daerah-daerah untuk mencicipi macam-macam masakan.

Hobi tersebut membuat lelaki yang pandai memasak itu merancang gambar restoran dan memodifikasi menu yang ia jual. Berdirilah warung masakan Sunda dan daerah lainnya. Salah satu menu adalah baby fish goreng atau wader dalam bahasa Jawa yang renyah berat, plus sambal khas Warung Daun yang unik itu.

Soelastri Soekirno,Sarie Febriane

Sumber: Kompas, Sabtu, 23 Agustus 2008







Read more...

Kuliner Bandung yang Beragam

>> Wednesday, August 27, 2008

”Kalau di Bandung, makanan apa pun disikat soalnya enak-enak. Saya pernah membawa turis Jerman ke rumah makan Sunda. Tahu dan tempe tetap dimakan,” kata Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia Jawa Barat Herman Rukmanadi.
Berdasarkan pengalaman Herman, turis-turis asing tidak mengalami masalah bila disuguhi makanan khas Sunda, bahkan menggemarinya.
Kreativitas pelaku usaha makanan membuat keragaman santapan di Bandung memiliki daya tarik tinggi untuk dieksplorasi.
Begitu banyak jenisnya, makanan Bandung bisa dibagi dalam berbagai kategori. Berdasarkan jam buka penjual, misalnya, keunggulan kuliner Bandung tidak hanya dapat dinikmati saat siang, tetapi juga malam bahkan hingga dini hari.
Jika ditinjau dari masanya, tidak sedikit jenis makanan yang sudah dibuat sejak zaman kolonialisme dengan rasa tetap dipertahankan. Belum lagi, kalau dikelompokkan dalam hidangan utama atau sekadar makan sela.
Bagi mereka yang senang dengan kehidupan malam, tak perlu khawatir kelaparan. Terdapat restoran cepat saji yang buka 24 jam. Seandainya ingin mencicipi cita rasa lokal, bisa mencoba warung makan Ceu Mar yang buka hingga pagi hari.
Maria, pemilik warung, berjualan pukul 20.00-08.00. Menu warung di Jalan Cikapundung itu adalah nasi dan lauk-pauknya. Tak jauh dari sana, di Jalan Asia Afrika, ada bubur ayam PR.
Disebut bubur ayam PR karena gerobaknya terletak di depan kantor harian umum Pikiran Rakyat (PR). Di situ pembeli bisa sekaligus melihat hotel legendaris Savoy Homann Bidakara yang dibangun pada tahun 1871 yang berada di seberangnya.
Perkedel kentang yang banyak diminati pembeli dapat disantap di terminal angkutan kota Stasiun Bandung, Jalan Kebonjati. Di warung nasi M Unus itu, selain perkedel juga dijual nasi dan lauk-pauk lain pada pukul 22.00-03.00.
Khas Sunda
Lazimnya di kota mana pun yang memiliki kekhasan, hidangan yang banyak ditawarkan adalah masakan khas Sunda. Bermacam rumah makan Sunda tersebar di jalan-jalan besar hingga gang sempit.
Sawios adalah salah satu tempat makan di gang kecil sebelah Bandoengsche Melk Centrale (BMC), Jalan Aceh. Pemiliknya, Siti Aminah, sebelum menempati lokasi saat ini sudah berpindah tempat hingga delapan kali. Bahkan, dia pernah dikejar-kejar petugas ketertiban umum (tibum) ketika berjualan menggunakan gerobak. Membantu ibu dan berpindah tempat berjualan membuat Siti tak lulus sekolah dasar.
Meski demikian, kini dia bersyukur sudah memiliki bangunan berlantai dua dan lahan yang dia tempati sejak akhir tahun 2005. Kini, pelanggan yang datang ke sana saat makan siang harus antre, bahkan sering tidak kebagian tempat. Padahal jumlah kursi cukup banyak, sekitar 100 buah. Warung itu buka pukul 08.00-17.00 dan tutup setiap hari libur nasional dan Minggu.
Warung nasi khas Sunda lain, Ma’ Uneh yang terletak di Jalan Terasana, harus dicapai melalui jalan kecil di samping Rumah Sakit Melinda, Jalan Pajajaran. Meski demikian, pada saat makan siang suasana di sana sangat ramai dipadati pembeli. Warung itu buka pukul 07.00-16.00.
Sejak masa kolonial
Kelebihan kuliner Bandung yang tak kalah menarik adalah toko atau rumah makan yang sudah berdiri lama, bahkan sejak zaman penjajahan Belanda.
Toko Kue Bawean yang dulu bernama Sweetheart sudah dijalankan tiga generasi sejak tahun 1946. Produk andalan toko di Jalan Bawean tersebut adalah kue, bolu, dan roti. Sedangkan Rasa Bakery and Cafe di Jalan Tamblong, yang menjual es krim dan roti, sudah berdiri sejak tahun 1945.
Di Jalan Braga, terdapat rumah makan Sumber Hidangan dengan nuansa bangunan Belanda. Memasuki tempat itu, terlihat radio kuno berukuran besar di belakang meja kasir. Lantainya terdiri dari potongan ubin klasik. Dindingnya sebagian dibuat dari kayu dan pada beberapa bagian tembok semen, catnya yang sudah kusam dan berjamur menambah suasana zaman dulu.
Rumah makan yang sudah ada sejak tahun 1929 itu menyajikan hidangan seperti bistik sapi, nasi goreng, sate, bihun, dan mi. Meski tempat tersebut sudah berusia lama, harga makanannya relatif sangat terjangkau. Selain itu, rumah makan itu juga menjual kue-kue klasik.
Masih di jalan yang sama, Restoran Braga Permai sudah beroperasi setidaknya mulai tahun 1930-an dengan nama pada saat itu Maison Bogerijen. Sejak masa yang sama, Paberik Kopi Aroma di Jalan Banceuy yang buka pukul 08.00-16.00 sudah menjual produknya.
Pilihan lain adalah Restoran Queen di Jalan Dalemkaum yang sempat menjadi persinggahan tamu-tamu negara saat Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Tempat itu sendiri dibuka tahun 1954. Mulai berjualan pada masa hampir bersamaan adalah Toko Roti Sidodadi di Jalan Otto Iskandar Dinata. Produknya antara lain roti gambang, kismis, dan roti tawar frans.
Jadi, Bandung memang tempatnya mencari keberagaman, termasuk aneka jenis makanan yang jadul (jaman dulu) sampai kreasi baru.

Sumber: Kompas, Rabu, 27 Agustus 2008

Read more...

Pagi Bubur Pelana, Sore Lotek.......

>> Tuesday, August 26, 2008

ORANG pergi ke Bandung biasanya untuk dua hal. Pertama, berburu busana di sejumlah gerai factory outlet (FO) yang bertebaran di setiap sudut Kota Bandung. Kedua, menikmati wisata kuliner dengan mencicipi berbagai jenis menu makanan khas yang tidak ditemukan di tempat lain. Pada praktiknya, dua jenis wisata tersebut, belanja sambil berburu makanan, bisa dijalani secara bersamaan.
Nah, soal berburu makanan, jika ingin mencicipi semua jenis makanan khas yang ada di Bandung, wisatawan tidak saja dituntut tahu peta dan alamat tiap outlet atau toko makanan. Tapi, juga harus tahu jam berapa sebaiknya "perburuan" itu dilakukan.

Bubur di pagi hari
Bandung di pagi hari biasanya diselimuti udara dingin dan membuat penghuninya gampang lapar. Ketika perut keroncongan di pagi hari, rasanya enak kalau makan sesuatu yang hangat. Pedas sedikit tak masalah, malah membangkitkan selera makan. Minum teh hangat akan menghilangkan rasa pedas itu. Bubur, merupakan salah satu pilihan tepat menu sarapan. Meski "tak terlalu berat" bubur mengenyangkan dan menghangatkan perut.
Di Bandung, tak sulit jika kita ingin makan bubur yang enak. Sebut saja bubur Pelana yang tersebar di lima lokasi, bubur Mang Oyo di Jln. Sulanjana, bubur H. Amin di Jln. Pajajaran, atau Pak Toto yang tak jauh dari pintu tol Buahbatu.
Kalau mau membanding-bandingkan rasanya, tak terlalu berbeda dan sangat bergantung nilai rasa seseorang. Keempat nya mempunyai kesamaan, bubur ayam yang boleh dilengkapi dengan jeroannya.
Perbedaan yang mencolok ada pada kekentalan bubur. Bubur Pelana yang juga ada di Jln. Pelana, Jln. Burangrang, Jln. Sukaleueur Kopo, Jln. Pungkur, dan Gg. Buah Jln. Peta, agak encer. "Bubur kan memang encer," kata Iwan Ridwan, salah seorang pengelola bubur Pelana.
Encernya bubur karena kaldu ayam yang digunakan tidak dimasak sampai habis. Bisa diduga, kaldu tersebut sangat terasa saat kita menyantap bubur. Satu lagi ciri khasnya, suwiran kulit ayam di dalamnya menambah gurih bubur. Kita tak perlu lagi membumbui bubur kecuali memberi sambal.
"Saya suka karena gurihnya dan ada kulit ayamnya," ujar Asep Nurjaman, mahasiswa Unisba yang menjadi pelanggan setia bubur Pelana.
Nah, jika Anda suka bubur yang lebih kental, akan lebih tepat jika memilih bubur Pak Toto yang terletak di seberang SPBU Buahbatu arah kiri selepas pintu tol Buahbatu dan bubur Jln. Pajajaran. Namun, jika ingin yang sangat kental, nyaris seperti tim cobalah bubur Mang Oyo. Bubur ini memang terkenal kental dan gurih. Saking kentalnya jika mangkok berisi bubur di balik, bubur tak akan jatuh. Berbeda dengan bubur Jln. Pelana, bubur Mang Oyo bisa dilengkapi dengan kacang kedelai goreng.
Di Bandung, untuk menyantap seporsi bubur yang isinya lengkap dengan daging ayam, ati ampela dan telur, Anda hanya perlu mengeluarkan uang berkisar Rp 7.000,00 hingga 15.000,00. Karena, penyuka bubur cukup banyak sebaiknya Anda mengujungi tukang bubur tidak lebih dari pukul 10.00 WIB. Bahkan, untuk bubur Jln. Pelana sering kali sudah habis pukul 8.00 WIB, terutama Minggu.
Jika ingin menyantap bubur di malam hari, Anda bisa mengunjugi bubur Pelana di Jln. Burangrang yang memang buka dua kali pagi dan malam. Selain itu, bubur H. Amin ke Jln. Pajajaran juga buka hingga malam hari, serta bubur Otong di Jln. Andir yang buka malam hari.

Lotek di siang hari
Sementara itu, jika Anda ingin makan siang di Kota Bandung, dapat dipilih di banyak tempat dengan pilihan menu yang beragam. Jika Anda ingin makan lengkap, dapat nongkrong di depan Masjid Istiqomah belakang Gedung Sate.
Di situ, ada gerobak dorong nasi timbel merah Ceu Eti. Di sini Anda dapat menikmati seporsi nasi timbel merah komplet, terdiri atas nasi timbel merah/putih, daging ayam goreng/pepes, ikan asin, tempe, tahu, ulukutek leunca, lalap, dan sambal. Menu pilihan lainnya, ikan mas goreng/pepes, atau semur jengkol.
Gerobak nasi timbel ini sudah nongkrong sejak pukul 8.00 pagi sampai pukul 16.00 WIB. Paling ramai dikunjungi pada waktu makan siang. Menu yang paling kahot, ulukutek leunca dan semur jengkol.
Nasi timbel juga dapat Anda cicipi di Jln. Mangga, Ciganea, dan berbagai rumah makan. Tapi, bila Anda ingin mencoba makan siang tanpa nasi, bisa pilih lotek, gado-gado, batagor, atau aneka sajian mi. Untuk lotek, tempat yang paling banyak dijugjug (dikunjungi) adalah lotek Kalipah Apo di Jln. Ciguriang sebelah King Shopping atau Lotek Jln. Macan.
Meskipun bahannya sama, lotek di berbagai tempat ini mempunyai ciri khas dan cita rasa yang berbeda. Lotek Jln. Macan, terkenal karena takaran bumbunya yang pas dan ulekannya yang kental. Wangi kencurnya sangat mengundang. Lokasinya juga mudah ditempuh, Anda bisa masuk dari Jln. Lodaya atau Jln. Buahbatu.
Lotek juga dapat dinikmati di Jln. Kalipah Apo, Jln. Moh. Ramdan dari arah Jln. Pungkur sebelah kiri, lotek di Kompleks Sumber Sari seberang BCA, Jln. Kelenteng, Jln. Mahmud, dan Jln. H. Akbar dekat Kartika Sari.

Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu, 07 Juni 2008.

Read more...

Malam Hari Nikmati Perkedel Bondon

>> Monday, August 25, 2008

BAGI penyuka makan di tengah malam, perkedel "bondon" menjadi salah satu alternatif pilihan dengan menu favorit perkedel yang dimasak menggunakan peralatan tradisional di kawasan Stasiun lama, Kota Bandung

Untuk yang memburu gado-gado, cobalah ke Jln. Raden Patah dekat Unpad. Makan gado-gado di tempat ini, dijamin kenyang! Kalau Anda pesan satu porsi saja, takarannya bisa untuk 2-3 orang. Kalau memang gado-gado ini ingin berkesan di lidah, kosongkan dulu perut Anda, baru pesan. Tapi, jika Anda sedang ingin kudapan yang garing dan pedas, datang ke Jln. Burangrang. Di situ ada warung Batagor Riri. Pesan 2-3 biji saja, Anda sudah tidak perlu mencari nasi lagi. Selain sedap, sama-sama mengenyangkan!
Kudapan berbahan tahu dicampur gilingan ikan ini, dapat Anda temui pula di Jln. Jln. Purnawarman (dekat pintu keluar tempat parkir Gramedia), Jln. Cibadak (depan toko buku Merauke), Simpang Dago, Jln. Bungsu, dan Jln. Pasirkaliki sebelum stopan Pajajaran. Yang ramai sih di Simpang Dago, maklum di situ kawasan mahasiswa. Tapi sayang, rada susah parkir!
Bagi penyuka sate, bisa dicicipi beragam jenis, mulai dari sate ayam Blora di Jln. Pasirkaliki, sate ayam Jln. Maulana Yusuf (seberang gereja), sate kambing Karjan Jln. Pasirkaliki, sate Hudori di seberang Stasiun Hall, atau sate kambing Jln. Balonggede.
Untuk kawasan Bandung selatan, Anda bisa mencoba sate Cilampeni yang kahot. (terkenal) Lokasinya bila dari arah Kopo-Soekarno Hatta menuju Soreang, berdekatan dengan lapangan Sulaeman. Sate Cilampeni terkenal karena bahan dasarnya kambing muda yang empuk.
Nah, apalagi? Jika Anda kebetulan sedang berada di Bandung pada siang hari dan saatnya makan siang, Anda bisa memilih tempat dengan menu pilihan yang beraneka ragam itu. Anda siap goyang lidah? Carilah tempatnya, paling cuma keluar uang Rp 25.000,00, sudah ditambah es teh.



Petis sayur Pa Haji
Bagi yang menyukai petis, bisa datang ke Jln. Puteri. Di sana, kita bisa menikmati petis sayur Pak Haji. Bagi yang sudah lama mengenalnya, biasa menyebut petis sayur Toko Hejo, karena letaknya di samping kanan Toko Hejo, toko kelontong yang semua catnya berwarna hejo (hijau).
"Sejak 1921, saat pertamakali kakek saya berdagang di sini, orang lebih mengenal dengan sebutan petis jalan Puteri karena lokasi mangkalnya di belokan jalan Puteri. Tapi, belakangan setelah almarhum kakek saya naik haji, orang mengenalnya dengan sebutan petis sayur Pa Haji, sampai sekarang," ujar Azhiem, generasi ketiga penerus "Petis Sayur Pa Haji".
Petis sayur yang memiliki kekhasan rasa bumbu petisnya yang berbeda dengan petis pada umumnya tersebut, dirintis Alm. H. Ali Sahali, sejak 1921. Kelebihan petis sayur Pa Haji, terletak pada bumbu petisnya. Umumnya petis sayur, untuk menambah rasa gurih diberi bumbu kacang maupun bumbu penyedap lainnya. "Kelezatan dari petis kami hanya pada bumbu petisnya saja, yang dipesan secara khusus," ujar Azhiem.
Bumbu petis yang kembali diolah dicampur air untuk kemudian disiramkan ke potongan lontong yang kemudian diberi toge rebus dan daun seledri. Kekhasan lainnya adalah kerupuk mi yang ditaburkan dan tahu yang digoreng matang.
Untuk harga, satu porsi standar petis sayur Pa Haji dihargai Rp 8.000,00, sementara yang spesial Rp 10.000,00. "Bahkan, kami menyediakan porsi dua dengan harga Rp 12.000, 00 karena banyak pengunjung yang sering merasa porsi biasa masih kurang," ujar Azhiem.
Petis sayur Pa Haji, sejak dulu hingga kini mulai buka sejak pukul 7.30 WIB hingga 16.00 WIB. "Tapi, biasanya jam 12 juga sudah habis, apalagi kalau Sabtu atau Minggu, bisa habis sebelum jam 12 siang," ujar Azhiem. Jadi, kalau tidak mau kehabisan, datang sebelum jam 12.00 WIB.



Perkedel bondon
Nah, untuk malam hari, bisa juga mencoba "perkedel bondon" yang kini menjadi primadona wisata kuliner Bandung. Letaknya di Jln. Kebonjati, masuk emplasemen stasiun lama Bandung. Disebut perkedel bondon, karena warungnya baru buka pukul 21.00 WIB, persis seperti para bondon (wanita nakal) yang biasa beroperasi malam hari.
Biasanya, warung perkedel bondon yang menawarkan menu standar terdiri dari lauk ayam, gepuk, tahu, dan tempe itu, akan "diserbu" pengunjung menjelang tengah malam. Jadi, jangan heran jika telat datang, Anda akan berada dalam satu antrean panjang. Untuk menikmati perkedel bondon yang dicocol dengan sambel terasi, pembeli tak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Dijamin sangat murah.
Makan malam di Bandung juga identik dengan warung Ceu Mar, yang terletak di kawasan Cikapundung. Warung tersebut mulai beroperasi 20.00 WIB hingga subuh. Atau bisa juga mencicipi menu di warung Nasi Kalong di Jln. R.E. Martadinata (Riau). Tentu saja, masih banyak titik atau lokasi makan yang bisa dicoba, sambil hangout menikmati udara malam Parijs van Java.

Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu, 07 Juni 2008

Read more...

About This Blog

Lorem Ipsum

  © Free Blogger Templates Skyblue by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP