Showing posts with label heritage architectures. Show all posts
Showing posts with label heritage architectures. Show all posts

Gedung Sate

>> Wednesday, November 26, 2008

This is a focal point of Bandung’s architectural history. Gedung Sate is a building that has become synonymous with Bandung, for its image decorates many publications about the city and countless postcards. The name itself is of interest: the pointed structure on the building’s roof resembles sate, which is a local culinary delight similar to shish kebab. Completed in 1920, the building manifests the Dutch determination to keep the East Indies firmly under their control, with Bandung as the capital instead of Batavia (present-day Jakarta). Today, the provincial Governor of West Java, whose office is in the Gedung Sate, has more than twice as many subjects as the Queen of the Netherlands.
The young architect who designed Gedung Sate, Gerber, successfully combined eastern and western style elements in this building: the roof on the central tower is a traditional West Java design, and the east wing have Moorish-looking arches and columns. The west wing (to your right, if you are standing in front of it) was added in the 1970’s and is a fine example of how an architect can integrate a new structure into an older ensemble and still retain his own style. Note that the height, shape, and ornamentation of the west wing’s roof correspond exactly to the east wing. Note also that the number and alignment of stories and windows exactly matches the old structure. The design of the windows uses the style elements of their older counterparts, though with modifications: rectangular and rounded elements from the ground floor windows while rectangular forms with vertical columns prevail in the upper floor.
The monument in front commemorates a skirmish over Gedung Sate in which seven young Indonesians fell at the hands of a Gurkha unit of British force in December 1945.
The whole ensemble faces a parade ground and an avenue oriented to Mt. Tangkuban Perahu, a feature perhaps borrowed from the Sultan’s palace in Yogjakarta, which faces Mt. Merapi. This avenue was planned in 1920 but is only now being realized.

Compiled from: All Around Bandung, Exploring The West Java Highlands, Gottfried Roelcke and Gary Crabb

Read more...

Menanti Senyum Ratu dari Timur...

>> Monday, September 15, 2008

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO / Kompas Images Seorang wisatawan asing melintas di depan gedung bekas Kantor Jakarta Lloyd di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, Senin (23/6). Banyak bangunan tua yang merupakan aset wisata Jakarta kondisinya rusak parah dan rawan roboh


Upaya menghidupkan kembali kawasan Kota Tua di Jakarta Utara telah dimulai 40 tahun silam. Akan tetapi, kondisi kawasan seluas 649 hektar yang membentang dari Pelabuhan Sunda Kelapa, Kampung Luarbatang di utara, dan Jalan Petakbaru dan Jembatanbatu di selatan itu hingga kini masih karut-marut.
Sebagian besar bangunan tampak kumuh tak terurus. Warisan sosial budayanya pun nyaris tenggelam.
Revitalisasi Kota Tua dimulai pada era Gubernur Ali Sadikin (1966-1977). Waktu itu, Ali mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 11 Tahun 1972 tentang Penetapan Kawasan Cagar Budaya Kota Tua Jakarta. Blok Taman Fatahillah, Pasar Ikan, dan Glodok ditetapkan sebagai zona konservasi.
Pemugaran Balaikota menjadi Museum Fatahillah, gudang rempah menjadi Museum Bahari, Museum Keramik, trotoar Kali Besar, dan Jembatan Gantung Kota Intan merupakan sebagian yang pernah dikerjakan Ali. Revitalisasi berorientasi pada bangunan fisik dan bersifat parsial. Konsep revitalisasi sosial budaya masih belum tampak.
Sepeninggal Ali, hampir semua gubernur Jakarta, mulai Tjokropranolo (1977-1982) sampai Sutiyoso, juga mencanangkan program revitalisasi Kota Tua. Namun, tidak ada perkembangan berarti. Dari 284 bangunan tua di sana, kurang dari 10 bangunan yang diperbaiki. Aspal jalan diganti dengan batu andesit, tetapi baru sebagian kecil yang diperbaiki.
Revitalisasi fisik butuh puluhan miliar rupiah. ”Untuk perbaikan jalan saja habis Rp 5 miliar. Total yang digulirkan sejak tahun 2006 mencapai Rp 70 miliar untuk perbaikan Kali Besar, kawasan inti dari Kota Tua,” ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis Penataan dan Pengembangan Kota Tua Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Candrian Attahiyat.
Bangunan lain dibiarkan terbengkalai. Sebagian tak berpenghuni, sebagian lagi difungsikan sebagai gudang barang-barang elektronik maupun kebutuhan rumah tangga. Setiap hari puluhan truk berlalu-lalang sehingga berpotensi mempercepat kerusakan bangunan yang rata-rata berumur 200-300 tahun itu.
”Kami tidak mungkin merevitalisasi semua. Dari 284, hanya 10 yang milik kami. Harapan kami, masyarakat ikut aktif merevitalisai bangunan tua yang mereka miliki,” katanya.
Arah revitalisasi makin tidak jelas karena belum adanya masterplan. ”Masterplan sedang dalam tahap penyelesaian. Mungkin akhir tahun ini rampung,” kata Candrian.
Kurang sosialisasi
Di sisi lain, masyarakat di kawasan Kota Tua mengaku tak pernah mendapat sosialisasi memadai mengenai revitalisasi. ”Kalau kami tidak diberi arahan, bagaimana bisa membantu revitalisasi?” papar tokoh masyarakat di Kelurahan Pakojan, A Rachman Alatas (80).
Selama ini, Rachman berinisiatif menjaga rumahnya yang merupakan salah satu bangunan tua. Bangunan berusia lebih dari 200 tahun itu setiap tahun diperbaiki, dengan biaya Rp 5 juta.
Sayang, tidak banyak warga seperti Rachman. Sebagian besar tetangga maupun ahli warisnya memilih menjual rumahnya dan tinggal di luar Kota Tua.
Tahun 1965 terdapat 10.000 keluarga keturunan Arab di Pakojan. Kini tinggal 15 keluarga. Rumah tua yang dijual lalu beralih fungsi menjadi bangunan seperti rumah susun dan toko.
Menurut warga sekitar Pecinan, Glodok, membongkar bangunan kuno lebih mudah asal ada uang pelicin. Padahal, ada aturan yang jelas-jelas melarang pembongkaran bangunan bersejarah.
Pemerhati kawasan Kota Tua sekaligus dosen Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara, Danang Priatmodjo, mengatakan, mustahil merevitalisasi kawasan Kota Tua hanya dari sisi fisik dan parsial.
Kunci menghidupkan kembali Kota Tua sebagai kota wisata bersejarah adalah membangun secara serentak berbagai aspek, termasuk sosial dan budaya. Mengajak pemangku kepentingan (stakeholders) berdialog merumuskan konsep. Setelah itu pemerintah harus memfasilitasi keinginan mereka dengan membangun infrastruktur jalan, jaringan listrik, telepon, dan saluran air bersih.
Alumnus Institut Teknologi Bandung ini mengatakan, revitalisasi Kota Tua tidak sulit seandainya pemerintah berkaca pada pembangunan kawasan Kemang di Jakarta Selatan.
Kota Tua bisa lebih hebat dari Kemang. Di sana terdapat pelabuhan kecil, Sunda Kelapa, yang menjadi pelabuhan utama Kerajaan Pajajaran di Bandung, Kerajaan Jayakarta, dan pusat perusahaan dagang Belanda, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC).
Selain itu, untuk menumbuhkan, kawasan Kota Tua harus diisi dengan kegiatan masa kini, seperti membuka jasa penginapan, tempat makan, tempat nongkrong, dan pertokoan. Tidak cukup dengan membangun museum-museum yang mengoleksi benda-benda mati.
”Siapa yang mengisi kegiatan itu? Serahkan saja pada komunitas-komunitas yang tinggal, seperti etnis China dan Arab. Undang investor untuk meramaikan,” ujar pria yang sudah 15 tahun meneliti Kota Tua ini.
Kepala Subdinas Pengkajian dan Pengembangan dari Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta Tinia Budiati mengatakan, kesempatan dan ruang bagi komunitas Kota Tua untuk mengekspresikan budayanya sebenarnya telah dibuka.
Berbagai pertunjukan tradisional barongsai dan perayaan Tahun Baru Imlek pernah digelar. Akan tetapi, hanya pada saat-saat tertentu, seperti saat perayaan 17 Agustus. Belum ada rangkaian kegiatan yang terencana agar eksistensi budaya lokal tumbuh.
Populasi dan tradisi
Kurangnya perhatian terhadap kelestarian budaya lokal ini melahirkan kecemasan bagi komunitas di Kota Tua, khususnya orang Arab. Akhirnya banyak di antaranya yang menjual rumah dan memilih tinggal di daerah lain. Alasannya, kawasan Kota Tua tidak lagi mampu menampung kebutuhan mereka, secara materi, sosial, maupun budaya. ”Saya tidak tahu berapa lama lagi orang Arab bertahan di sini,” kata Rachman.
Masalah pelik juga dihadapi komunitas Pecinan di Glodok. Sebagian generasi mudanya memilih tinggal di luar Kota Tua, bahkan di luar negeri. Hal itu mengancam kelestarian tradisi khas mereka.
Persoalan lain adalah pluralisme etnis yang menguat. Komunitas China di Pecinan kian beragam. Contohnya di Gang Petak Sembilan. Di sana hidup beragam etnis China, seperti Kwang Tung, Hokkian, dan Kanton. Mereka memiliki kepentingan berbeda sehingga sering muncul konflik. ”Untuk menggelar perayaan Cap Go Meh saja sering ada beda pendapat,” kata Wong Wan Ai (55), Ketua Rukun Tetangga 02 RW 02 Kelurahan Glodok, Kecamatan Tamansari, Jakarta Utara.
Sebenarnya Kota Tua kaya dengan tradisi lokal yang masih bertahan. Tradisi China yang masih bertahan, antara lain, perayaan Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh di hari ke-15 Imlek, dan Peh Cun di hari ke-100 Imlek.
Tradisi Arab pun belum hilang. Khatam Tarawih diselenggarakan setiap tanggal 27 Ramadhan dan tradisi kesenian Hadrah untuk mengiringi pesta pernikahan masih subur.
Sayangnya, sampai sekarang pemberian panggung bagi ekspresi budaya komunitas lokal tersebut belum terwujud. Padahal, pemberdayaan sosial dan budaya sangat menentukan, bukan saja bagi revitalisasi, tetapi juga eksistensi dan keunikan komunitas di dalamnya.
Memang tidak mudah mewujudkan itu semua. Butuh kerja keras semua kalangan agar membuat Ratu dari Timur itu tersenyum kembali.


Oleh: M Hilmi Faiq/ Runik Sri Astuti/ M Burhanudin


Sumber: Kompas, Selasa, 16 September 2008

Read more...

heritage architectures

>> Monday, September 8, 2008

Read more...

Arcitecture

Read more...

Maison Bogerijen

>> Wednesday, July 16, 2008

Café-Restaurant dan Tukang Roti paling centil di Bandung tempo doeloe adalah Maison Bogerijen di Braga. Ia satu-satunya Café-Restaurant yang memasang Lambang Kerajaan Oranje Belanda.

Konon tatkala suami-istri Bogerijen meresmikan restorannya ia telah mendapat Piagam Restu dari Sri Ratu di Nederland sana. Oleh sebab itu hanya di Maison Bogerijen orang bisa mendapatkan hidangan istimewa “Koningin Emma Taart" dan “Wilhelmina Taart” yang harus dipesan dulu sebulan sebelumnya. Seperti apa bentuk dan bahan buat tarcis itu, kita sekarang tak bisa membayangkan!

Semua daftar makanan Maison Bogerijen ditulis dalam Bahasa Perancis, maklumlah Bandung kala itu masih Parijs van Java. Sebuah daftar menu Maison Bogerijen tempo doeloe menghidangkan santapan malam Minggu, seperti:

(Foto: www.merpati.nl )
Hors d’Oeuvre de Luxe
Poulet sauté Portugaise
Petits Pois aux laities
Champignons grilles
Pommes Dauphine
Escalopes de Veau a la Suisse
Gateau Americain
Fromager et Biscuits
Petit pain et beurre
Café – The


Begitu Prancisnya kedai kopi ini, hingga “frikadel jagung” ditulisnya pada dfatar sebagai Croquettes de Mais. Hebat!

Di kedai kopi Moison Bogerijen yang dilator-belakangi dekor tropis dan suasana yang eksotik (in een tropisch dekor en exotische sfeer), para pengunjung duduk di bawah naungan payung taman nan lebar, memenuhi teras tepi jalan Braga, sambil cuci mata, mengamati mojang Priangan lalu lalang. Asyik!

Minuman ringan macam champagne merk import “Veuve Cliqout”, diminum pelan-pelan sambil leha-leha di sana.

Hari Sabtu pukul satu, sekelompok professor, guru-besar dari THS pada makan siang di Bogerijen. Itu pemandangan rutin yang bisa diamati pada café-restaurant yang paling beken di Braga tempo doeloe.

Dimalam Minggu, keluarga Prangerplanters yang kelaparan di gunung, turun menyerbu restaurant itu.

Pemandangan semacam ini sekarang langka kita temui lagi! Maklumlah Bandung sekarang bukan lagi Bandoeng tempo doeloe.

Sumber: Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, Haryoto Kunto

Read more...

Schoemaker dan Penanda Kota Bandung

>> Thursday, March 13, 2008

Boleh jadi belum banyak orang tahu bahwa arsitek bernama lengkap Prof Ir Kemal Charles Proper Schoemaker (1882-1949) memiliki banyak peran dalam pembangunan gedung bersejarah di Kota Bandung, kota di mana ia dimakamkan. Ia seorang dari beberapa arsitek Belanda ternama yang banyak berkarya di Indonesia selain Thomas Karsten, dan Henry McLaine Pont. Dia juga guru presiden pertama RI Soekarno dan para insinyur pribumi angkatan pertama semasa kuliah di Technische Hogeschool (kini menjadi Institut Teknologi Bandung/ITB). Selain bangunan, tidak sedikit tulisan hasil penelitiannya mengenai kebudayaan Indonesia khususnya tentang arsitektur tradisional termasuk candi. Bersama McLaine Pont, arsitek yang merancang Kampus ITB, arsitek kelahiran Banyubiru, Ambarawa, ini membentuk kesatuan pandangan arsitektur yang sangat memperhatikan potensi dan budaya setempat yang tampak pada karyanya. Berikut ini sebagian karyanya yang bertebaran di penjuru Kota Bandung, mulai dari gedung pertemuan, hotel, bangunan kantor/komersial, masjid dan gereja, rumah tinggal, penjara, hingga laboratorium penelitian. Hampir semua karya itu menjadi penanda fisik penting di Bandung.
GEDUNG Merdeka di Jalan Asia-Afrika merupakan salah satu artefak yang sangat menyejarah di Kota Kembang karena di gedung tersebut pernah diselenggarakan Konferensi Asia-Afrika tahun 1955. Pada abad ke-19 gedung itu mulanya digunakan sebagai gedung Societeit Concordia yang merupakan perkumpulan orang-orang terkemuka. Namun, pada tahun 1930 bangunan itu dirombak total dari idiom klasik ke Arsitektur Modern oleh Schoemaker. Karena menjadi bangunan yang teramat penting, sejak tahun 1955 hingga saat kini tidak ada sedikit pun dilakukan perubahan berarti. Karya lain adalah hotel paling eksotik yang dibangun pada masa kolonial yakni Hotel Preanger. Hotel ini jelas mengingatkan pada langgam seni dekoratif Frank Lloyd Wright pada awal 1920-an, khususnya karya Imperial Hotel di Tokyo (1915-1925).Motif geometrik secara dekoratif mengisi pada bidang dan pertemuan elemen bangunan. Karya ini memberi identitas tersendiri yang menegaskan sebutan Art Decorative. Pengaruh ini sebenarnya muncul dalam banyak bangunan kolonial di Bandung. Boleh jadi, gejala ini juga merupakan imbas dari maraknya langgam serupa di kota-kota Eropa sekitar tahun 1920-an. Jika ia pernah merancang bangunan komersial di Surabaya seperti Kolonial Bank (Jalan Jembatan Merah) dan Java Store (Jalan Tunjungan), Schoemaker pernah juga merancang bangunan bernama Jaarbeurs de Bandung yang bergaya modern dan kini dipakai sebagai Markas besar Kodam III Siliwangi. Kompleks Jaarbeurs awalnya direncanakan untuk keperluan pameran hasil industri organisasi pengusaha industri bernama Vereniging Nederland Indische Jaarbeurs de Bandung.Kompleks Jaarbeurs yang mulai dibangun tahun 1920 ini dikelilingi empat jalan, yakni Jalan Banda, Jalan Menado, Jalan Blitar, dan Jalan Sunda. Meskipun beberapa telah mengalami perubahan, namun unit bangunan utama paling depan dekat gapura masih utuh, kecuali elemen dekoratif klasik tiga buah patung yang ditutup badannya di bagian pintu masuk. Desain dan tata letak berbagai ventilasi untuk memasukkan cahaya dan udara alami tertata sangat baik.Perpaduan langgam Eropa dengan gaya setempat terlihat mantap dalam rancangan bangunan religius seperti Masjid Cipaganti di Jalan Cipaganti dan Gereja Bethel di Jalan Wastukencana. Masjid Cipaganti yang dibangun pada tahun 1933 memperlihatkan unsur seni bangunan Jawa, yaitu berupa penggunaan atap tajug tumpang dua, empat saka guru di tengah ruang shalat dan detail ornamen seperti bunga maupun sulur-suluran. Sedangkan unsur Eropa terlihat pada pemakaian kuda-kuda segi tiga penyangga atap dan secara khusus penataan massa bangunan pada lahan ”tusuk sate” antara Jalan Cipaganti dengan Jalan Sastra. Penataan massa bangunan seperti ini menjadikan bangunan tampak paling menarik jika dilihat dari Jalan Sastra karena terbingkai deretan pepohonan rindang. Penataan seperti itu merupakan cara ”Eropa” yang menjadi sesuatu yang baru pada bangunan masjid di Jawa.Begitu pula Gereja Bethel yang menghadap Sythof Park Pieter atau sekarang disebut Taman Merdeka. Pada bagian atap, Schoemaker mengambil bentuk atap tajug Jawa, namun bentuk bangunannya mengambil sentral Palladian dengan menara sudut. Langgam Eropa makin jelas jika dilihat pada pintu utama yang mengingatkan bentuk gereja Romanesk meskipun samar-samar mengambil pula inspirasi Gothik. Arsitek ini juga pernah mendesain bangunan yang biasa dikenal sebagai Penjara Sukamiskin. Bangunan penjara ini masih berdiri dengan kokoh yang dapat kita lihat dari arah perjalanan Cicaheum ke Ujung Berung di sebelah kanan jalan. Sungguh suatu bangunan yang juga tidak kalah menarik di pinggiran Kota Bandung.
JIKA kita lanjutkan penelusuran makin ke arah Bandung Utara, kita akan menemui beberapa rumah tinggal yang sangat unik karya Schoemaker. Dua di antaranya adalah Villa Merah, ITB di Jalan Tamansari, dan Villa Isola di Jalan Setiabudi yang kini menjadi gedung rektorat IKIP/UPI Bandung. Bangunan rumah tinggal pertama Schoemaker terkenal dengan sebutan Villa Merah karena menggunakan bata berwarna merah. Material ini dipaparkan terbuka sehingga warna merah mendominasi hampir seluruh permukaan bangunan kecuali atap yang menjulang dan menjadikan vila itu sangat unik karena tanpa-padanan. Bangunan dua lantai ini juga sangat menonjol dalam upaya memadukan seni bangunan Eropa dengan Indonesia yang beriklim tropis panas dan lembab. Adapun Villa Isola disebut-sebut sebagai bangunan megah bergaya Arsitektur Modern yang dianggap sangat berhasil dalam menyatukan bangunan dengan lingkungannya. Bangunan yang awalnya adalah rumah tinggal milik orang Belanda bernama DW Barrety ini berada di pinggiran kota. Penataan lansekap dan bangunan mengikuti sumbu utara-selatan sebagaimana penataan lansekap Kampus ITB dengan taman memanjang menuju arah Gunung Tangkuban Perahu. Penataan ini memperlihatkan kesatuan dengan bentuk geometri bangunan yang meliuk-liuk plastis, dan dengan ornamen garis-garis moulding yang memanfaatkan efek gelap-terang sinar Matahari.Karena terletak di dataran yang cukup tinggi dan bersumbu utara-selatan, kita bisa menikmati pemandangan ke utara yakni Gunung Tangkuban Perahu dan ke selatan ke arah Kota Bandung. Pemandangan ke berbagai arah ini dapat dinikmati dari berbagai sudut seperti ruang tidur, keluarga, makan, dan terutama teras atau balkon. Bangunan yang dibangun pada tahun 1933 ini dapat menjadi contoh perpaduan serasi antara seni bangunan barat dan timur. Sebagai catatan akhir, jika menelusuri Jalan Setiabudi menuju Lembang kita akan menemui bangunan untuk pengembangan ilmu dan penelitian tentang bintang dan benda luar angkasa yaitu Laboratorium Bosscha yang sampai kini merupakan satu-satunya di Indonesia. Itulah sederetan bangunan karya Schoemaker yang sangat lekat dengan landmark Kota Bandung. Karya-karya itu, selain selalu memiliki kualitas desain arsitektural yang baik, juga memberi manfaat begitu besar karena terus digunakan meski sebagian di antaranya telah berubah fungsi. Dan, yang tak kalah penting, hampir semua artefak bangunan itu masih bisa disaksikan hingga kini.

Bambang Setia Budi, staf pengajar Departemen Arsitektur Institut Teknologi Bandung.

Kompas: Minggu, 4 Agustus 2002.

Masjid Cipaganti


Masjid Cipaganti — Peletakan massa bangunan Masjid Cipaganti dalam posisi ”tusuk sate” merupakan cara ”Eropa”. Bangunan ini memperlihatkan dengan jelas upaya memadukan unsur seni bangunan Jawa dan Eropa.

Villa Isola

Villa Isola — Vila ini adalah sebuah bangunan modern di pinggiran Kota Bandung yang dianggap sangat berhasil dalam menyatukan bangunan dengan lingkungannya.



Read more...

Gedung Merdeka (The Venue of the Asian African Conference)

>> Sunday, January 27, 2008

Concordia Building, 1895

Gedung Merdeka located on Jalan Asia Afrika Number 65 Bandung was built in 1895 as a meeting place for European people, especially who lived in Bandung and its surroundings. Most of them were the owner of the tea plantation and Dutch officers.
They established a society which was well known as Societeit Concordia on 29th June 1879. The purpose of the society was “...... de bevordering van gezellig verkeer”. As a meeting place, at first they used to gather having some tea in the Warung De Vries.
Afterwards, (1895) they moved in to a building opposite to the Warung De Vries, named Concordia which takes 7.983 meter square. In that year, the building was a simple one which its walls were made of wood and the source of its light at night were only gasoline lanterns.
The building was located in the corner of “Groote Postweg ” (now Jalan Asia Afrika) and “Bragaweg” (now Jalan Braga). Its left wing is next to Tjikapoendoeng River (Cikapundung) which was very comfortable since there were many thick trees grew.


Concordia Building, 1921
Societeit Concordia Building was rebuilt in 1921 in a more functional and structural modern architecture (Art Deco) by designer C. P Wolff Schoemaker.
The building modified its façade and became the most luxurious, complete, exclusive and modern “super club” building in Indonesia. The floors were made of Italian marbles. The bar and common room were made of cikenhout wood, while the gorgeous crystal chandeliers were the lamplights. The rooms inside the building had a capacity to accommodate various art performances. The land covered 7,500 m².


Concordia Building, 1940
Societeit Concordia was renovated again in 1940 with new international style architecture with the help of Architect A. F Aalbers.
This new architecture style was marked by plasterboard with a flat roof. The front part of the building consisted of lines and horizontal elements, while inside of the building was dominated by cubism style.
During the Japanese occupation (1942 – 1945), the name of Societeit Concordia Building was changed into Dai Toa Kaikan and functioned as the cultural centre.
After Indonesian proclamation of independence on August 17, 1945, the building was used as the headquarter of Indonesian youth in Bandung in order to fight the Japanese troops who were not willing to surrender.
Since 1949, in the occupation government, Societeit Concordia Building was renovated and refunctioned as Societeit Concordia, the gathering place of Europeans (including some of Indonesians)
The building was again used for art performances, parties, restaurants and other gatherings as well.




Concordia that was change become Gedung Merdeka in 1955.

Regarding Indonesian Government decree (1954) to inaugurate Bandung as the city of Asian-African, Societeit Concordia Building was chosen as the venue for the conference, because it was the biggest and most luxurious building in Bandung. Furthermore, it was located in the middle of the city and close to the best hotels in town, Savoy Homann and Preanger Hotel.
Since the beginning of 1955, Societiet Concordia Building was started to be renovated to accommodate its function as the venue for international conference. The renovation was managed by Department of Public Works, Province of West Java, headed by Ir. R. Srigati Santoso. Prior to the conference, the building was renamed by President Soekarno and became Gedung Merdeka (April 7, 1955).





Read more...

About This Blog

Lorem Ipsum

  © Free Blogger Templates Skyblue by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP